Diagnosis Perdarahan Postpartum
Diagnosis perdarahan postpartum atau postpartum hemorrhage (PPH) ditegakkan bila kehilangan darah mencapai ≥500 mL setelah persalinan pervaginam atau ≥1000 mL setelah sectio caesarea, atau bila terdapat tanda instabilitas hemodinamik akibat perdarahan. Penilaian dilakukan melalui evaluasi jumlah perdarahan, pemeriksaan tanda vital, serta identifikasi penyebab menggunakan pendekatan 4T (tone, trauma, tissue, dan thrombin).[1-3,5]
Anamnesis
Pada anamnesis, pasien umumnya mengeluhkan perdarahan pervaginam yang berlebihan setelah persalinan, baik berupa aliran darah yang terus-menerus, keluarnya darah dalam jumlah besar secara tiba-tiba, maupun pengeluaran bekuan darah berukuran besar.
Pasien juga dapat melaporkan gejala yang berkaitan dengan kehilangan darah akut, seperti pusing, lemas, berdebar-debar, sesak napas, pandangan kabur, hingga penurunan kesadaran pada kasus yang berat. Informasi mengenai waktu mulai perdarahan, jumlah perdarahan yang diperkirakan, serta adanya nyeri perut atau nyeri pada daerah perineum perlu digali untuk membantu menentukan penyebab perdarahan.
Selain keluhan utama, anamnesis harus mencakup faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya PPH. Ini mencakup riwayat atonia uteri, perdarahan postpartum pada persalinan sebelumnya, kehamilan ganda, polihidramnion, makrosomia janin, persalinan lama atau sangat cepat, retensio plasenta, tindakan operatif obstetri, serta riwayat gangguan pembekuan darah.[1-3,5,7]
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada perdarahan postpartum terbagi menjadi dua, yakni pemeriksaan umum dan khusus/obstetri.
Pemeriksaan Fisik Umum
Pemeriksaan fisik secara umum meliputi pemeriksaan tingkat kesadaran, nadi, laju napas, tekanan darah, hidrasi kulit dan membran mukosa, capillary refill time (CRT), dan urine output. Pemeriksaan fisik secara umum penting dilakukan terutama untuk menilai derajat keparahan hipovolemik akibat perdarahan postpartum.[1-3,5,7]
Tabel 1. Tanda dan Gejala Sesuai Derajat Hipovolemik
|
Klasifikasi |
Tanda Klinis |
|
Ringan Jumlah perdarahan 1000-1500 mL (10-15%) |
Keadaan umum pasien tampak lemas |
|
Tekanan darah sistolik 80‒100 mmHg |
|
|
Takikardia ringan |
|
|
Mottled skin |
|
|
Akral atau ekstremitas dingin |
|
|
CRT (capillary refill time) memanjang |
|
|
Urine output menurun |
|
|
Sedang Jumlah perdarahan 1500-2000 mL (25-35%) |
Keadaan umum pasien tampak gelisah |
|
Tekanan darah sistolik 70‒80 mmHg |
|
|
Takikardia >110 kali per menit |
|
|
Laju napas >30 kali per menit |
|
|
Kulit pucat (telapak tangan, mukosa bibir) |
|
|
CRT memanjang |
|
|
Urine output menurun (oliguria) |
|
|
Berat Jumlah perdarahan 2000-3000 mL (35-50%) |
Keadaan umum pasien tampak agitasi atau bingung, terkadang tidak sadarkan diri |
|
Tekanan darah sistolik 50‒70 mmHg |
|
|
Anuria |
Sumber: dr.Novita, Alomedika, 2019.[14]
Pemeriksaan Fisik Khusus
Pada pemeriksaan fisik khusus atau obstetri dicari tahu penyebab dari perdarahan. Pemeriksaan obstetri meliputi pemeriksaan kontraksi uterus, letak, konsistensi uterus, pemeriksaan dalam untuk menilai adanya perdarahan atau sumber perdarahan, melihat keutuhan plasenta, tali pusat, serta mencari apakah terdapat robekan pada jalan lahir. Berikut ini adalah tanda gejala sesuai penyebab perdarahan postpartum.[1-3,5,7]
Tabel 2. Tanda dan Gejala pada Perdarahan Postpartum
|
Penyebab |
Tanda dan gejala |
|
Atonia uteri |
Perdarahan terjadi segera setelah anak lahir |
|
Uterus tidak berkontraksi, konsistensi uterus lembek |
|
|
Plasenta tidak keluar 30 menit setelah bayi lahir |
|
|
Sisa plasenta |
Plasenta atau sebagian selaput tidak lengkap |
|
Perdarahan dapat muncul 6-10 hari pasca persalinan disertai subinvolusi uterus |
|
|
Robekan jalan lahir |
Perdarahan mengalir segera setelah bayi lahir |
|
Fundus uteri tidak teraba |
|
|
Liang vagina terisi massa |
|
|
Nyeri perut (ringan hingga berat) |
|
|
Gangguan pembekuan darah |
Perdarahan sulit dihentikan, darah cenderung encer dan tidak terdapat gumpalan darah |
|
Kegagalan terbentuknya gumpalan darah muncul pada saat dilakukan uji pembekuan darah |
|
|
Terdapat faktor predisposisi seperti solusio plasenta, intrauterine fetal death / IUFD, eklamsia, emboli air ketuban |
Sumber: dr.Novita, Alomedika, 2019.[14]
Diagnosis Banding
Diagnosis banding pada perdarahan postpartum adalah berdasarkan etiologinya.
Atonia Uteri
Pada atonia uteri akan didapatkan tonus otot yang abnormal setelah plasenta lahir. Perabaan uterus terasa lembek.[3,7,8]
Retensio Plasenta
Pada retensio plasenta, plasenta tidak dapat dilahirkan bahkan 30 menit setelah bayi lahir. Kontraksi uterus bisa normal, bisa hipotonus.[3,7,9]
Sisa Plasenta
Sisa plasenta dapat terdeteksi segera setelah plasenta lahir dengan melihat kelengkapan plasenta, dan beberapa hari setelah lahir dimana didapatkan perdarahan terus menerus dan subinvolusi uterus.[3,7,9]
Robekan Jalan Lahir
Setelah bayi lahir, dapat terlihat adanya robekan pada perineum, cervix, atau vagina.[3,5,7]
Inversio Uteri
Setelah bayi dan plasenta lahir, saat dilakukan perabaan, tidak didapatkan fundus uteri. Massa uteri dapat terlihat pada liang vagina.[3,5,7]
Gangguan Pembekuan Darah
Penyebab ini cukup jarang didapatkan dan biasanya sudah terdeteksi saat dilakukan antenatal care, misalnya pada pasien HELLP (hemolysis, elevated liver enzyme, dan low platelet count). Ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium profil pembekuan darah, seperti bleeding time, clotting time, dan prothrombin time.[1-3,7]
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada perdarahan postpartum tidak selalu dilakukan, karena disesuaikan dengan jenis perdarahan serta onset kejadian. Namun berikut ini adalah pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan (terutama pada asuhan antenatal) untuk membantu dokter dalam mencari faktor risiko, mendiagnosis, serta menentukan penyebab perdarahan postpartum.[1-3,5,7]
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah rutin, utamanya pemeriksaan hemoglobin. Umumnya jika terjadi perdarahan masif dapat ditemukan hasil Hb kurang dari 8 g/dL. selain itu apabila pada saat asuhan antenatal ditemukan bahwa ibu mengalami anemia, maka keadaan ini dapat segera dikoreksi.
Pemeriksaan golongan darah juga dilakukan untuk kepentingan tata laksana bila pasien membutuhkan transfusi darah. Transfusi sebaiknya tidak ditunda dan tidak diputuskan berdasarkan kadar hemoglobin semata, tetapi sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi klinis pasien.
Pemeriksaan waktu perdarahan atau waktu pembekuan, trombosit, protrombin dan partial prothrombin time / PTT, untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan faktor pembekuan darah.
Pemeriksaan fibrinogen atau D-dimer dapat digunakan untuk membantu penegakan diagnosis disseminated intravascular coagulation (DIC).[3,7]
Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan USG dilakukan untuk melihat apakah terdapat sisa plasenta ataupun gumpalan darah. Kemudian apabila dilakukan pada saat antenatal dapat membantu dokter mendeteksi plasenta previa dan plasenta akreta.[2,3,7]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha