Penatalaksanaan Perdarahan Postpartum
Penatalaksanaan perdarahan postpartum atau postpartum hemorrhage (PPH) dilakukan secara cepat dan simultan melalui stabilisasi hemodinamik, transfusi darah bila diperlukan, serta pemantauan kondisi pasien. Tata laksana selanjutnya difokuskan pada penyebab perdarahan, seperti pemberian uterotonika untuk atonia uteri, perbaikan laserasi jalan lahir, evakuasi sisa jaringan plasenta, atau koreksi gangguan koagulasi.[1-3,5,7,15,16]
Tata Laksana Umum
Tindakan awal untuk pasien perdarahan postpartum adalah penilaian dan penanganan kegawatdaruratan, termasuk tanda-tanda syok hipovolemik. Tata laksana umum meliputi:
- Memberikan terapi oksigen
- Memasang jalur intravena (IV) dengan jarum besar (ukuran 16 G atau 18 G), untuk resusitasi cairan dengan cairan kristaloid atau normal salin. Carian dapat diberikan secara bolus jika terdapat syok hipovolemik
- Memeriksa golongan darah crossmatch dan darah lengkap, untuk persiapan transfusi sesuai protokol. Transfusi darah diberikan apabila Hb <8 g/dL atau secara klinis menunjukkan tanda-tanda anemia berat
- Memasang kateter urin untuk memantau urine output
- Memantau tanda-tanda vital secara terus menerus
- Menentukan penyebab atau sumber perdarahan, untuk menentukan tata laksana khusus.[1-3,5,7]
Tata Laksana Khusus
Penatalaksanaan khusus diberikan sesuai dengan penyebab perdarahan postpartum, yakni mnemonic 4T (tonus, tissue, trauma, thrombin).[5,7]
Tonus
Pada gangguan tonus, pemijatan uterus dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki tonus dan menghentikan perdarahan. Selain itu, dapat diberikan obat-obat uterotonika yang merangsang kontraksi uterus, seperti:
Oksitosin: berfungsi untuk menstimulasi segmen atas dari miometrium agar dapat berkontraksi dengan teratur, dan dapat menimbulkan konstriksi arteri-arteri spiral serta menurunkan aliran darah ke uterus. Dosis yang direkomendasikan adalah 20‒40 IU dalam 1 liter normal salin, diberikan IV sebanyak 500 mL dalam 10 menit, kemudian selanjutnya 250 mL setiap jam
Misoprostol: bekerja dengan menginduksi kontraksi uterus secara menyeluruh. Dosis yang direkomendasikan adalah 800‒1000 μg per rektal, atau 600‒800 μg per sublingual/peroral. Misoprostol digunakan hanya jika tidak tersedia oksitosin.[1-3,5,7,15]
Trauma
Pada keadaan trauma, misalnya laserasi jalan lahir, harus dilakukan penjahitan laserasi secara kontinu. Sedangkan pada inversio uteri dapat dilakukan reposisi uterus.[2,3,5,7,15]
Tissue
Pada keadaan retensio plasenta, dilakukan manual plasenta dengan hati-hati. Sedangkan pada sisa bekuan darah, dilakukan eksplorasi digital atau aspirasi vakum manual untuk mengeluarkan bekuan darah atau jaringan sisa.[2,3,5,7,15]
Thrombin
Pada kondisi gangguan faktor pembekuan darah, dapat diberikan transfusi darah lengkap untuk menggantikan faktor pembekuan darah dan sel darah merah. Selain itu, dapat juga diberikan asam traneksamat dengan dosis 1 gram. Dosis asam traneksamat dapat diulang jika perdarahan berlangsung >30 menit.[2,3,5,7,15]
Asam Traneksamat
Asam traneksamat bekerja menghambat fibrinolisis sehingga membantu mempertahankan bekuan darah yang telah terbentuk. Penggunaan asam traneksamat terbukti dapat menurunkan mortalitas akibat PPH hingga sekitar 30% dan dianjurkan pada semua wanita dengan kehilangan darah ≥500 mL setelah persalinan pervaginam atau ≥1000 mL setelah sectio caesarea.
Asam traneksamat diberikan secara intravena dengan dosis 1 gram selama 10 menit dalam waktu maksimal 3 jam setelah persalinan, dan dapat diulang satu kali apabila perdarahan masih berlanjut setelah 30 menit.[5]
Intervensi Nonbedah
Uterine balloon tamponade dilakukan dengan memasukkan balon ke dalam kavum uteri dan mengisinya dengan cairan saline untuk memberikan tekanan langsung pada sumber perdarahan. Selain berfungsi sebagai terapi, metode ini juga memiliki nilai diagnostik karena berhentinya perdarahan menunjukkan bahwa sumber perdarahan berasal dari dalam uterus.
Penggunaan uterine balloon tamponade direkomendasikan pada perdarahan yang refrakter terhadap uterotonika dan asam traneksamat, dengan hasil yang sangat baik bila dilakukan sebelum pasien mengalami syok berat.
Pilihan nonbedah lain adalah nonpneumatic antishock garment (NASG), yaitu perangkat berbahan neoprena yang membungkus dan memberikan kompresi pada tubuh bagian bawah untuk meningkatkan aliran darah ke organ vital.
Alat ini digunakan sebagai tindakan stabilisasi sementara sebelum dilakukan terapi definitif, transfusi darah, atau rujukan. Penggunaan NASG menurunkan angka kematian maternal hingga hampir 50% dan bermanfaat terutama pada kondisi dengan keterbatasan sumber daya.[5]
Pembedahan
Bila terapi konservatif gagal menghentikan perdarahan, maka diperlukan penatalaksanaan bedah. Embolisasi arteri uterina merupakan pilihan yang efektif dengan tingkat keberhasilan lebih dari 90% dan berpotensi mempertahankan fertilitas di masa depan.
Alternatif lainnya meliputi jahitan kompresi uterus yang memiliki tingkat keberhasilan sekitar 92%, ligasi sementara arteri uterina atau ligasi arteri iliaka interna bilateral, serta histerektomi peripartum sebagai terapi definitif pada kasus yang mengancam jiwa.
Pada pasien dengan perdarahan masif dan kondisi sangat kritis, dapat dilakukan damage control resuscitation, yaitu kombinasi resusitasi menggunakan produk darah dan tindakan bedah sementara untuk mengendalikan perdarahan hingga kondisi pasien lebih stabil.[5]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha