Edukasi dan Promosi Kesehatan Perdarahan Postpartum
Edukasi dan promosi kesehatan perdarahan postpartum atau postpartum hemorrhage (PPH) meliputi pengenalan tanda bahaya seperti perdarahan pervaginam, keluarnya bekuan darah besar, pusing, lemas, serta pentingnya segera mencari pertolongan medis apabila gejala tersebut muncul. Promosi kesehatan difokuskan pada perawatan antenatal yang adekuat, termasuk pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil dan postpartum.[1-3,5,7]
Edukasi Pasien
Edukasi pasien mengenai perdarahan postpartum (PPH) bertujuan meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda dan gejala perdarahan setelah persalinan. Pasien dan keluarga perlu diberi informasi bahwa perdarahan yang berlebihan, penggantian pembalut yang sangat sering, keluarnya bekuan darah berukuran besar, pusing, lemas, berdebar-debar, sesak napas, atau penurunan kesadaran merupakan tanda bahaya yang memerlukan evaluasi medis segera.
Selain itu, pasien perlu memahami pentingnya kontrol pascapersalinan untuk memantau proses pemulihan dan mendeteksi komplikasi secara dini. Pasien juga perlu diedukasi mengenai langkah-langkah yang dapat mendukung pemulihan setelah mengalami PPH, seperti mengonsumsi makanan bergizi yang kaya zat besi, mematuhi terapi suplemen zat besi atau obat yang diresepkan, serta beristirahat yang cukup.
Bagi pasien yang menjalani transfusi darah atau tindakan bedah, jelaskan mengenai kemungkinan efek samping dan tanda komplikasi yang harus diwaspadai. Dorong pula keterlibatan keluarga dalam mengenali gejala atau tanda bahaya dan membantu pasien memperoleh pertolongan medis secara cepat.[2,3,5,7]
Upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Pencegahan dan pengendalian perdarahan postpartum dimulai dengan identifikasi faktor risiko sejak masa antenatal serta penerapan protokol standar selama persalinan dan periode pascapersalinan. Faktor risiko yang perlu dikenali antara lain riwayat PPH sebelumnya, gangguan koagulasi, plasenta akreta, multiparitas, riwayat operasi uterus, infeksi uterus, mioma uteri, dan kehamilan ganda.
Selain itu, optimalisasi kondisi ibu sebelum persalinan, terutama melalui deteksi dan penatalaksanaan anemia dengan suplementasi zat besi dan mikronutrien, merupakan langkah penting untuk meningkatkan cadangan hemoglobin dan mengurangi dampak kehilangan darah saat persalinan.[2,5,7]
Manajemen Aktif Kala III Persalinan
Strategi pencegahan yang paling efektif adalah manajemen aktif kala III persalinan. Tindakan ini meliputi pemberian uterotonika segera setelah bayi lahir, traksi tali pusat terkendali, dan pemantauan kontraksi uterus setelah plasenta lahir.
Oksitosin merupakan uterotonika lini pertama yang direkomendasikan dan dapat diberikan secara intramuskular atau intravena untuk merangsang kontraksi uterus sehingga mengurangi risiko perdarahan. Pada beberapa kondisi, oksitosin dapat dikombinasikan dengan ergometrin atau misoprostol, atau misoprostol dapat digunakan sebagai alternatif bila oksitosin tidak tersedia.
Traksi tali pusat terkendali membantu mencegah retensio plasenta, sedangkan pijatan fundus yang lembut setelah lahirnya plasenta dapat membantu mempertahankan kontraksi uterus dan pengeluaran bekuan darah.[2,5,7]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha