Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Penatalaksanaan Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (ISPB) general_alomedika 2026-01-12T08:53:22+07:00 2026-01-12T08:53:22+07:00
Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (ISPB)
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Penatalaksanaan Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (ISPB)

Oleh :
dr.Nailla Fariq Alfiani
Share To Social Media:

Penatalaksanaan infeksi saluran pernapasan bawah (ISPB) terkait infeksi virus, umumnya hanya memerlukan terapi suportif. Pada kasus terkait infeksi bakteri, antibiotik bisa diperlukan. Pada kasus berat, terapi oksigen atau penggunaan ventilator mekanik perlu dipertimbangkan sesuai kondisi klinis.[1,5,25]

Berobat Jalan

Pasien infeksi saluran pernapasan bawah (ISPB) dengan gejala ringan hingga sedang umumnya dapat ditangani di layanan primer, dengan fokus pada pemantauan tanda vital, saturasi oksigen, dan tanda distres respirasi. Penatalaksanaan mencakup diagnosis dini, terapi suportif seperti hidrasi adekuat, antipiretik untuk demam, nutrisi yang baik, serta antibiotik empiris bila dicurigai ada infeksi bakteri.

Lakukan edukasi pada pasien dan keluarga tentang tanda perburukan, misalnya sesak napas yang bertambah, demam menetap atau penurunan kesadaran. Jika terjadi perburukan, edukasi pasien untuk segera mencari pertolongan medis demi mencegah progresi dan komplikasi, termasuk gagal napas.[1,5,25]

Indikasi Rujukan

Indikasi rujukan pada ISPB antara lain:

  • Sesak napas berat
  • Hipoksemia (saturasi oksigen <92%)
  • Ada manifestasi klinis gagal organ
  • Pasien tidak berespon terhadap terapi awal dalam 48–72 jam
  • ISPB pada bayi < 2 bulan dan lansia > 65 tahun, atau pasien imunokompromais dengan risiko komplikasi tinggi, misalnya pasien dengan komorbiditas penyakit paru kronis, penyakit jantung, diabetes tidak terkontrol, dan gangguan neurologis.[25]

Prinsip Farmakoterapi pada Infeksi Saluran Pernapasan Bawah

Pada ISPB yang disebabkan oleh bakteri, terapi antibiotik empiris diberikan sesuai profil sensitivitas pathogen lokal. Pemilihan antibiotik harus mempertimbangkan usia pasien, faktor risiko komorbiditas, tingkat keparahan, dan kemungkinan resistensi. Pemberian antibiotik pada bronkitis akut dan bronkiolitis tanpa indikasi bakteri tidak dianjurkan. Pada kasus berat, seperti kasus dengan hipoksemia, intervensi tambahan seperti ventilasi mekanik mungkin diperlukan.[4,10,17]

Antibiotik

Antibiotik diberikan pada pasien ISPB jika terdapat dugaan infeksi bakteri, misalnya pada pneumonia bakterial, baik pada pasien rawat jalan dengan gejala ringan hingga sedang maupun pada pasien rawat inap. Pemilihan agen antibiotik disesuaikan dengan pedoman nasional, tingkat resistensi bakteri di wilayah setempat, serta kondisi dan profil pasien.[4,25]

Tabel 1. Pilihan Antibiotik Empiris pada Pneumonia Rawat Jalan

Jenis Antibiotik Dosis Dewasa

Amoxicillin klavulanat

500/125 mg, 3 kali sehari
Cefuoroxim 500 mg, 2 kali sehari
Azithromycin

500 mg di hari pertama, lalu hari selanjutnya

250 mg sekali sehari

Doxycycline 100 mg, 2 kali sehari
Levofloxacin 750 mg, sekali sehari
Moxifloxacin 400 mg, sekali sehari

Sumber: Kemenkes, 2023.[4]

Tabel 2. Pilihan Antibiotik Empiris pada Pneumonia Rawat Inap

Jenis Antibiotik (Intravena) Dosis Dewasa

Ampicillin-sulbactam

1,5-3 g, 4 kali sehari
Cefotaxim 1-2 g, 3 kali sehari
Ceftriaxone 1-2 g, sekali sehari
Azithromycin 500 mg, sekali sehari
Levofloxacin 750 mg, sekali sehari
Moxifloxacin 400 mg, sekali sehari

Vancomycin (jika dicurigai Methicillin resistant S.aureus)

15 mg/kg, 2 kali sehari

Linezolid (jika dicurigai Methicillin resistant S.aureus)

600 mg, 2 kali sehari

Piperacillin-tazobactam (mencakup P.aeruginosa)

4,5 g, 4 kali sehari
Ceftazidime (mencakup P.aeruginosa) 2 g, 3 kali sehari
Imipenem (mencakup P.aeruginosa) 500 mg, 4 kali sehari

Sumber: Kemenkes, 2023.[4]

Pada bronkiolitis, penggunaan antibiotik tidak dianjurkan karena penyebab tersering adalah virus. Penggunaan antibiotik juga tidak dianjurkan pada bronkitis akut kecuali jika terdapat kondisi komorbid yang berisiko menimbulkan komplikasi serius. Terapi antibiotik direkomendasikan pada pasien lanjut usia dengan batuk akut jika mereka pernah dirawat di rumah sakit dalam setahun terakhir, menderita diabetes melitus atau gagal jantung kongestif, atau sedang menerima steroid.[10,17]

Antivirus

Penggunaan antivirus tidak dianjurkan pada ISPB yang disebabkan oleh virus, terutama pada individu imunokompeten. Meski demikian, antivirus bisa dipertimbangkan pada kasus di mana pasien berisiko tinggi mengalami komplikasi. Sebagai contoh, oseltamivir bisa diberikan pada kasus influenza berat, terutama pada pasien berisiko tinggi seperti lansia, bayi, atau imunokompromais.[17,25].

Terapi Simptomatis

Terapi simptomatis diberikan untuk meringankan gejala, meningkatkan toleransi terhadap penyakit, dan mendukung pemulihan. Antipiretik paracetamol merupakan pilihan pada semua kelompok umur, termasuk bayi. Ibuprofen dapat digunakan pada anak lebih besar namun sebaiknya dihindari pada bayi <3 bulan atau dengan dehidrasi.

Penggunaan bronkodilator, seperti salbutamol inhalasi, tidak dianjurkan pada kasus bronkiolitis. Pada bronkitis akut, bronkodilator bisa dipertimbangkan untuk meredakan gejala sesak, sedangkan efikasi penggunaan obat batuk antitusif atau ekspektoran kurang didukung bukti ilmiah.[10,17,25]

Terapi Suportif

Suplementasi oksigen diberikan pada pasien dengan saturasi oksigen <90-92% pada pemeriksaan oksimetri nadi. Jika risiko gagal napas tinggi (impending respiratory failure) pertimbangkan penggunaan CPAP (continuous positive airway pressure).

Pemenuhan kebutuhan cairan harian bisa diberikan secara nasogastrik atau intravena pada pasien-pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya per oral. Fisioterapi dada bisa dipertimbangkan pada pneumonia untuk memperbaiki drainase sputum

Nebulisasi salin hipertonik (3%) pada kasus bronkiolitis sudah tidak dianjurkan lagi. Penggunaan kortikosteroid inhalasi atau sistemik juga tidak dianjurkan.[4,10,17,25,26]

Follow-up

Pada pasien rawat jalan dengan gejala ringan–sedang, follow-up biasanya dilakukan dalam 48–72 jam setelah terapi awal untuk menilai respons terhadap pengobatan dan memastikan tidak ada perburukan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi saturasi oksigen, serta rontgen toraks jika terdapat perburukan klinis atau dicurigai komplikasi seperti efusi pleura.[4,25]

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. Saphira Evani

Referensi

1. Malakounidou E, Tsiri P, Theochari E, Koulousousa E, Karampitsakos T, Tzouvelekis A. Lower respiratory tract infections treatment recommendations: An overview. Pneumon, 36(3), 17. 2023. https://doi.org/10.18332/pne/163184
4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. PNPK Tata Laksana Pneumonia pada Dewasa. 2023.
5. Ulsamer A, Bonilla S, Pérez-Fernández X, Rello J, Sabater-Riera J. The pathogenesis of ventilator-associated pneumonia: old and new mechanisms. Expert Review of Respiratory Medicine, 19(7), 655–671. 2025. https://doi.org/10.1080/17476348.2025.2493366
10. NICE. Bronchiolitis in children: diagnosis and management. 2021. https://www.nice.org.uk/guidance/ng9/chapter/Recommendations
17. Fayyaz J. Bronchitis. Medscape, 2024.https://emedicine.medscape.com/article/297108-overview#a1
25. Mauritz MD, von Both U, Dohna-Schwake C, et al. Clinical recommendations for the inpatient management of lower respiratory tract infections in children and adolescents with severe neurological impairment in Germany. Eur J Pediatr 183, 987–999 (2024). https://doi.org/10.1007/s00431-023-05401-6
26. Gori A, Zicari AM. Early-life lower respiratory tract infection: Addressing long-term health risks through nutritional interventions and public awareness. Ital J Pediatr Allergy Immunol. 2024;38(3):599. https://www.riaponline.it/article/view/599

Diagnosis Infeksi Saluran Pernap...
Prognosis Infeksi Saluran Pernap...

Artikel Terkait

  • Perbandingan Potensi Kortikosteroid Sistemik
    Perbandingan Potensi Kortikosteroid Sistemik
  • Red Flag Noisy Breathing pada Bayi
    Red Flag Noisy Breathing pada Bayi
  • Red Flags Batuk pada Bayi dan Anak
    Red Flags Batuk pada Bayi dan Anak
  • Manajemen PPOK Menurut Pedoman GOLD 2023
    Manajemen PPOK Menurut Pedoman GOLD 2023
  • Pedoman Penanganan PPOK 2025 – Ulasan Guideline Terkini
    Pedoman Penanganan PPOK 2025 – Ulasan Guideline Terkini

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 25 November 2025, 09:38
Sesak napas pada anak usia 8 bulan dengan riwayat bronkopneumonia
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo Dokter, Assalamualaikum.. sy memiliki pasien anak usia 8 bulan BB 7 kg. keluhan sesak disertai demam . Keluhan tanpa disertai batuk flu. Pasien punya...
Anonymous
Dibalas 25 September 2025, 18:32
Tbc reinfeksi atau bronchopneumonia? Bagaimana melakukan diagnosisnya?
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo dokter, izin diskusi dok. Pasien anak 3 tahun datang dgn keluhan demam 4 mgg,batuk4 mgg, bb turun tidak ada kontak tbc skrg, kgb tdk membesar, rontgen...
dr.Meidina
Dibalas 01 Juli 2025, 22:25
Diagnosis sesak yang tepat? - ALOPALOOZA Paru-paru
Oleh: dr.Meidina
1 Balasan
Pasien laki-laki usia 62th datang ke IGD dengan keluhan utama sesak napas meningkat sejak 2 hari yll, sesak hilang timbul, sesak tidak menciut, meningkat...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.