Penatalaksanaan Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (ISPB)
Penatalaksanaan infeksi saluran pernapasan bawah (ISPB) terkait infeksi virus, umumnya hanya memerlukan terapi suportif. Pada kasus terkait infeksi bakteri, antibiotik bisa diperlukan. Pada kasus berat, terapi oksigen atau penggunaan ventilator mekanik perlu dipertimbangkan sesuai kondisi klinis.[1,5,25]
Berobat Jalan
Pasien infeksi saluran pernapasan bawah (ISPB) dengan gejala ringan hingga sedang umumnya dapat ditangani di layanan primer, dengan fokus pada pemantauan tanda vital, saturasi oksigen, dan tanda distres respirasi. Penatalaksanaan mencakup diagnosis dini, terapi suportif seperti hidrasi adekuat, antipiretik untuk demam, nutrisi yang baik, serta antibiotik empiris bila dicurigai ada infeksi bakteri.
Lakukan edukasi pada pasien dan keluarga tentang tanda perburukan, misalnya sesak napas yang bertambah, demam menetap atau penurunan kesadaran. Jika terjadi perburukan, edukasi pasien untuk segera mencari pertolongan medis demi mencegah progresi dan komplikasi, termasuk gagal napas.[1,5,25]
Indikasi Rujukan
Indikasi rujukan pada ISPB antara lain:
- Sesak napas berat
- Hipoksemia (saturasi oksigen <92%)
- Ada manifestasi klinis gagal organ
- Pasien tidak berespon terhadap terapi awal dalam 48–72 jam
- ISPB pada bayi < 2 bulan dan lansia > 65 tahun, atau pasien imunokompromais dengan risiko komplikasi tinggi, misalnya pasien dengan komorbiditas penyakit paru kronis, penyakit jantung, diabetes tidak terkontrol, dan gangguan neurologis.[25]
Prinsip Farmakoterapi pada Infeksi Saluran Pernapasan Bawah
Pada ISPB yang disebabkan oleh bakteri, terapi antibiotik empiris diberikan sesuai profil sensitivitas pathogen lokal. Pemilihan antibiotik harus mempertimbangkan usia pasien, faktor risiko komorbiditas, tingkat keparahan, dan kemungkinan resistensi. Pemberian antibiotik pada bronkitis akut dan bronkiolitis tanpa indikasi bakteri tidak dianjurkan. Pada kasus berat, seperti kasus dengan hipoksemia, intervensi tambahan seperti ventilasi mekanik mungkin diperlukan.[4,10,17]
Antibiotik
Antibiotik diberikan pada pasien ISPB jika terdapat dugaan infeksi bakteri, misalnya pada pneumonia bakterial, baik pada pasien rawat jalan dengan gejala ringan hingga sedang maupun pada pasien rawat inap. Pemilihan agen antibiotik disesuaikan dengan pedoman nasional, tingkat resistensi bakteri di wilayah setempat, serta kondisi dan profil pasien.[4,25]
Tabel 1. Pilihan Antibiotik Empiris pada Pneumonia Rawat Jalan
| Jenis Antibiotik | Dosis Dewasa |
Amoxicillin klavulanat | 500/125 mg, 3 kali sehari |
| Cefuoroxim | 500 mg, 2 kali sehari |
| Azithromycin | 500 mg di hari pertama, lalu hari selanjutnya 250 mg sekali sehari |
| Doxycycline | 100 mg, 2 kali sehari |
| Levofloxacin | 750 mg, sekali sehari |
| Moxifloxacin | 400 mg, sekali sehari |
Sumber: Kemenkes, 2023.[4]
Tabel 2. Pilihan Antibiotik Empiris pada Pneumonia Rawat Inap
| Jenis Antibiotik (Intravena) | Dosis Dewasa |
Ampicillin-sulbactam | 1,5-3 g, 4 kali sehari |
| Cefotaxim | 1-2 g, 3 kali sehari |
| Ceftriaxone | 1-2 g, sekali sehari |
| Azithromycin | 500 mg, sekali sehari |
| Levofloxacin | 750 mg, sekali sehari |
| Moxifloxacin | 400 mg, sekali sehari |
Vancomycin (jika dicurigai Methicillin resistant S.aureus) | 15 mg/kg, 2 kali sehari |
Linezolid (jika dicurigai Methicillin resistant S.aureus) | 600 mg, 2 kali sehari |
Piperacillin-tazobactam (mencakup P.aeruginosa) | 4,5 g, 4 kali sehari |
| Ceftazidime (mencakup P.aeruginosa) | 2 g, 3 kali sehari |
| Imipenem (mencakup P.aeruginosa) | 500 mg, 4 kali sehari |
Sumber: Kemenkes, 2023.[4]
Pada bronkiolitis, penggunaan antibiotik tidak dianjurkan karena penyebab tersering adalah virus. Penggunaan antibiotik juga tidak dianjurkan pada bronkitis akut kecuali jika terdapat kondisi komorbid yang berisiko menimbulkan komplikasi serius. Terapi antibiotik direkomendasikan pada pasien lanjut usia dengan batuk akut jika mereka pernah dirawat di rumah sakit dalam setahun terakhir, menderita diabetes melitus atau gagal jantung kongestif, atau sedang menerima steroid.[10,17]
Antivirus
Penggunaan antivirus tidak dianjurkan pada ISPB yang disebabkan oleh virus, terutama pada individu imunokompeten. Meski demikian, antivirus bisa dipertimbangkan pada kasus di mana pasien berisiko tinggi mengalami komplikasi. Sebagai contoh, oseltamivir bisa diberikan pada kasus influenza berat, terutama pada pasien berisiko tinggi seperti lansia, bayi, atau imunokompromais.[17,25].
Terapi Simptomatis
Terapi simptomatis diberikan untuk meringankan gejala, meningkatkan toleransi terhadap penyakit, dan mendukung pemulihan. Antipiretik paracetamol merupakan pilihan pada semua kelompok umur, termasuk bayi. Ibuprofen dapat digunakan pada anak lebih besar namun sebaiknya dihindari pada bayi <3 bulan atau dengan dehidrasi.
Penggunaan bronkodilator, seperti salbutamol inhalasi, tidak dianjurkan pada kasus bronkiolitis. Pada bronkitis akut, bronkodilator bisa dipertimbangkan untuk meredakan gejala sesak, sedangkan efikasi penggunaan obat batuk antitusif atau ekspektoran kurang didukung bukti ilmiah.[10,17,25]
Terapi Suportif
Suplementasi oksigen diberikan pada pasien dengan saturasi oksigen <90-92% pada pemeriksaan oksimetri nadi. Jika risiko gagal napas tinggi (impending respiratory failure) pertimbangkan penggunaan CPAP (continuous positive airway pressure).
Pemenuhan kebutuhan cairan harian bisa diberikan secara nasogastrik atau intravena pada pasien-pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya per oral. Fisioterapi dada bisa dipertimbangkan pada pneumonia untuk memperbaiki drainase sputum
Nebulisasi salin hipertonik (3%) pada kasus bronkiolitis sudah tidak dianjurkan lagi. Penggunaan kortikosteroid inhalasi atau sistemik juga tidak dianjurkan.[4,10,17,25,26]
Follow-up
Pada pasien rawat jalan dengan gejala ringan–sedang, follow-up biasanya dilakukan dalam 48–72 jam setelah terapi awal untuk menilai respons terhadap pengobatan dan memastikan tidak ada perburukan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi saturasi oksigen, serta rontgen toraks jika terdapat perburukan klinis atau dicurigai komplikasi seperti efusi pleura.[4,25]
Penulisan pertama oleh: dr. Saphira Evani