Prognosis Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome
Meskipun prognosis bisa cukup baik dengan terapi, polyendocrine metabolic ovarian syndrome atau PMOS, yang dahulu dikenal dengan istilah polycystic ovary syndrome/PCOS atau sindrom ovarium polikistik, membawa risiko komplikasi seperti infertilitas dan penyakit kardiometabolik.
Pasien PMOS mengalami peningkatan risiko terhadap diabetes, dislipidemia, hipertensi, infark miokard dan stroke karena penyakit ini bukan penyakit reproduktif saja, melainkan melibatkan multisistem, termasuk sistem endokrin dan metabolik.[1-3]
Komplikasi
Resistensi insulin kronis pada PMOS menyebabkan hiperinsulinemia yang akhirnya meningkatkan risiko intoleransi glukosa, prediabetes, hingga diabetes melitus tipe 2. Selain itu, pasien PMOS sering mengalami dislipidemia yang dapat mempercepat proses aterosklerosis.
Lebih lanjut, pada PMOS bisa terjadi obesitas sentral, hipertensi, inflamasi kronis derajat rendah, dan gangguan metabolik yang menyebabkan risiko sindrom metabolik serta penyakit kardiovaskular meningkat dibanding populasi umum. Pasien juga lebih rentan mengalami metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) yang dapat berkembang menjadi steatohepatitis, fibrosis, bahkan sirosis bila tidak ditangani.
Anovulasi pada PMOS menyebabkan infertilitas. Selain itu, pada wanita yang berhasil hamil, risiko komplikasi obstetri lebih tinggi, termasuk diabetes gestasional dan hipertensi dalam kehamilan. Selain itu, paparan estrogen kronis tanpa oposisi progesteron pada PMOS dapat meningkatkan risiko kanker endometrium.
PMOS juga sangat memengaruhi kualitas hidup pasien. Hiperandrogenisme pada PMOS menyebabkan hirsutisme, jerawat persisten, dan alopecia androgenik yang dapat mengganggu citra tubuh dan kepercayaan diri. Akibatnya, prevalensi depresi, kecemasan, gangguan makan, hingga gangguan tidur meningkat pada pasien PMOS. Sebagian pasien juga mengalami obstructive sleep apnea yang memperburuk resistensi insulin dan risiko kardiovaskular.[1-3,19]
Prognosis
Terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa pasien PMOS mengalami peningkatan risiko infark miokard 2,5 kali lipat dan stroke 1,7 kali lipat. Lebih lanjut, risiko kejadian emboli paru meningkat 27%, deep vein thrombosis 30%, dan major adverse cardiovascular events 21% dibandingkan wanita tanpa PMOS.
Selain itu, 40% pasien PMOS memiliki resistensi insulin, terlepas dari indeks massa tubuh (IMT) normal atau meningkat. Ini akan meningkatkan risiko diabetes dan komplikasi kardiometabolik.[19]
Penulisan pertama oleh: dr. Yelsi Khairani