Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
HIV yogi 2026-06-04T11:35:41+07:00 2026-06-04T11:35:41+07:00
HIV
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Pendahuluan HIV

Oleh :
dr. Siti Solichatul Makkiyyah
Share To Social Media:

Infeksi HIV disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel CD4. Penularan HIV paling sering terjadi melalui kontak seksual yang melibatkan permukaan mukosa. Selain itu, HIV juga dapat ditularkan dari ibu ke bayi selama kehamilan, persalinan, serta melalui penggunaan jarum suntik bersama pada penyalahgunaan narkoba.

Defek respon imun yang terus berlanjut pada infeksi HIV dapat memburuk menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Oleh karena jalur transmisi infeksi HIV, infeksi dominan terjadi pada populasi kunci seperti pengguna narkoba suntik, pekerja seks, pelanggan atau pasangan seks, laki-laki seks dengan laki-laki, waria, dan warga binaan pemasyarakatan.[1,2]

Sumber: J Gathany, C Tryon, S Howard, PHIL CDC, 2004. Sumber: J Gathany, C Tryon, S Howard, PHIL CDC, 2004.

Infeksi HIV tidak memunculkan gejala ataupun tanda yang spesifik. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan serologi dan virologi, dengan tetap menerapkan prinsip 5C yaitu consent, confidentiality, counselling, correct results, dan connection.

Diagnosis HIV dinyatakan positif apabila terdapat tiga hasil tes serologis reaktif dengan metode berbeda atau ditemukan virus melalui pemeriksaan virologis baik secara kuantitatif atau kualitatif. Secara keseluruhan, pedoman klinis Indonesia merekomendasikan penggunaan uji virologis pada anak <18 bulan dan uji serologis dengan strategi tiga tes sekuensial pada individu ≥18 bulan sebagai standar diagnosis HIV.[2,3]

Koinfeksi tuberkulosis dan HIV juga tinggi di Indonesia, sehingga Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merekomendasikan pemeriksaan HIV pada seluruh pasien yang didiagnosis tuberkulosis.[2,3]

Saat ini, terapi antitretroviral (ART) merupakan satu-satunya pengobatan yang tersedia untuk mengendalikan infeksi HIV. Terapi ini biasanya menggunakan kombinasi tiga atau empat obat yang menghambat replikasi virus. Meskipun ART tidak dapat menyembuhkan infeksi HIV, terapi ini mampu menekan jumlah virus dalam tubuh, dan memperlambat progresi penyakit menjadi AIDS.[1]

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. Abi Noya

Referensi

1. van Heuvel Y., Schatz S., Rosengarten JF., Stitz J. Infectious RNA: Human Immunodeficiency Virus (HIV) Biology, Therapeutic Intervention, and the Quest for a Vaccine. Toxins. MDPI; 2022. DOI:10.3390/toxins14020138
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus, Acquired Immuno-deficiency Syndrome, dan Infeksi Menular Seksual. 2022.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN TATA LAKSANA HIV. 2019.

Patofisiologi HIV

Artikel Terkait

  • Penanganan TB-HIV
    Penanganan TB-HIV
  • Hasil Positif Palsu pada Pemeriksaan HIV Generasi Keempat
    Hasil Positif Palsu pada Pemeriksaan HIV Generasi Keempat
  • Mencegah dan Mengatasi Needle Stick Injury
    Mencegah dan Mengatasi Needle Stick Injury
  • Rekomendasi Pemeriksaan HIV Menurut WHO
    Rekomendasi Pemeriksaan HIV Menurut WHO
  • Manifestasi Penyakit Kulit pada Pasien HIV/AIDS
    Manifestasi Penyakit Kulit pada Pasien HIV/AIDS

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 15 Desember 2025, 07:42
Akurasi tes rapid HIV
Oleh: Anonymous
1 Balasan
ALO dokter, selamat sore. izin tanya, pasien saya datang untuk cek rapid anti hiv karena melakukan tindakan beresiko 2 thn yll, setelahnya dia sudah tobat...
Anonymous
Dibalas 28 Mei 2025, 20:49
HIV AIDS IO TB PARU, apa terapi yang tepat yang dapat diberikan?
Oleh: Anonymous
3 Balasan
Alo dokter, saya memiliki pasien B20+TB Paru, dengan sesak napas, batuk 1 bulan, keluhan lain sakit kepala, teriak2 dan tidak bisa diajak berkomunikasi....
Anonymous
Dibalas 27 Mei 2025, 12:30
Tes HIV Non Reaktif , 5 bulan pasca berhubungan apakah sudah akurat ?
Oleh: Anonymous
1 Balasan
ALO Dokter, Izin bertanya dok, pasien melakukan Tes HIV dengan hasil Non Reaktif , di 5 bulan pasca berhubungan apakah sudah akurat ? Dan apakah perlu...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.