Pendahuluan HIV
Infeksi HIV disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel CD4. Penularan HIV paling sering terjadi melalui kontak seksual yang melibatkan permukaan mukosa. Selain itu, HIV juga dapat ditularkan dari ibu ke bayi selama kehamilan, persalinan, serta melalui penggunaan jarum suntik bersama pada penyalahgunaan narkoba.
Defek respon imun yang terus berlanjut pada infeksi HIV dapat memburuk menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Oleh karena jalur transmisi infeksi HIV, infeksi dominan terjadi pada populasi kunci seperti pengguna narkoba suntik, pekerja seks, pelanggan atau pasangan seks, laki-laki seks dengan laki-laki, waria, dan warga binaan pemasyarakatan.[1,2]
Infeksi HIV tidak memunculkan gejala ataupun tanda yang spesifik. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan serologi dan virologi, dengan tetap menerapkan prinsip 5C yaitu consent, confidentiality, counselling, correct results, dan connection.
Diagnosis HIV dinyatakan positif apabila terdapat tiga hasil tes serologis reaktif dengan metode berbeda atau ditemukan virus melalui pemeriksaan virologis baik secara kuantitatif atau kualitatif. Secara keseluruhan, pedoman klinis Indonesia merekomendasikan penggunaan uji virologis pada anak <18 bulan dan uji serologis dengan strategi tiga tes sekuensial pada individu ≥18 bulan sebagai standar diagnosis HIV.[2,3]
Koinfeksi tuberkulosis dan HIV juga tinggi di Indonesia, sehingga Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merekomendasikan pemeriksaan HIV pada seluruh pasien yang didiagnosis tuberkulosis.[2,3]
Saat ini, terapi antitretroviral (ART) merupakan satu-satunya pengobatan yang tersedia untuk mengendalikan infeksi HIV. Terapi ini biasanya menggunakan kombinasi tiga atau empat obat yang menghambat replikasi virus. Meskipun ART tidak dapat menyembuhkan infeksi HIV, terapi ini mampu menekan jumlah virus dalam tubuh, dan memperlambat progresi penyakit menjadi AIDS.[1]
Penulisan pertama oleh: dr. Abi Noya
