Diagnosis HIV
Diagnosis infeksi HIV ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium, termasuk tes antibodi, antigen-antibodi, dan nucleic acid amplification test (NAAT). Secara umum, diagnosis HIV dapat ditegakkan melalui dua metode utama, yaitu pemeriksaan serologis dan virologis. Setelah seseorang dinyatakan HIV positif, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang tambahan untuk menilai ada tidaknya penyakit penyerta dan infeksi oportunistik.[2,4]
Anamnesis
Evaluasi pasien dengan HIV diawali melalui anamnesis komprehensif yang mencakup penelusuran gejala, faktor risiko penularan, serta kondisi komorbid. Riwayat seksual, penggunaan obat, kesehatan mental, imunisasi, dan aspek sosial perlu dieksplorasi untuk mengidentifikasi risiko, hambatan terapi, serta dukungan yang tersedia.
Referensi
(Konten ini khusus untuk dokter. Registrasi untuk baca selengkapnya)