Diagnosis HIV
Diagnosis infeksi HIV ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium, termasuk tes antibodi, antigen-antibodi, dan nucleic acid amplification test (NAAT). Secara umum, diagnosis HIV dapat ditegakkan melalui dua metode utama, yaitu pemeriksaan serologis dan virologis. Setelah seseorang dinyatakan HIV positif, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang tambahan untuk menilai ada tidaknya penyakit penyerta dan infeksi oportunistik.[2,4]
Anamnesis
Evaluasi pasien dengan HIV diawali melalui anamnesis komprehensif yang mencakup penelusuran gejala, faktor risiko penularan, serta kondisi komorbid. Riwayat seksual, penggunaan obat, kesehatan mental, imunisasi, dan aspek sosial perlu dieksplorasi untuk mengidentifikasi risiko, hambatan terapi, serta dukungan yang tersedia.
HIV lebih rentan terjadi pada populasi kunci, yaitu pekerja seks, pengguna narkoba suntik (penasun), laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), waria, dan warga binaan pemasyarakatan. Pasien umumnya memiliki keluhan yang tidak spesifik, seperti flu-like symptoms, tetapi dapat pula menunjukkan keluhan sesuai penyakit infeksi oportunistik yang diderita
Secara klinis, infeksi HIV berkembang dalam tiga tahap utama, yaitu fase akut, kronis, dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Pada fase akut, sekitar 90% pasien mengalami gejala dalam 2–4 minggu setelah infeksi, umumnya berupa demam, kelelahan, ruam, dan limfadenopati, yang bersifat nonspesifik dan dapat sembuh sendiri. Fase kronis ditandai dengan periode asimtomatik yang panjang, meskipun dapat ditemukan limfadenopati persisten dan infeksi oportunistik ringan.
Tanpa terapi, infeksi akan berkembang menjadi AIDS, yang ditandai dengan munculnya kondisi penentu seperti infeksi oportunistik berat, misalnya tuberkulosis, pneumonia Pneumocystis jirovecii, dan kandidiasis esofagus, serta keganasan tertentu, terutama pada kadar CD4+ <200 sel/mm³.[4]
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada kecurigaan HIV diawali dengan memeriksa tanda vital dan status generalis, serta dilengkapi dengan pemeriksaan menyeluruh dari kepala hingga kaki untuk mendapatkan gambaran lengkap kondisi fisik pasien dan tanda infeksi oportunistik penyerta.
Tidak ada tanda khas yang dijumpai pada pemeriksaan fisik pasien dengan HIV. Namun, pasien dengan kondisi wasting, ulkus oral luas, limfadenopati, ulkus pada area genital yang menunjukkan tanda infeksi menular seksual, harus selalu diarahkan pada kecurigaan kasus HIV.
Diagnosis Banding
Diagnosis banding pada pasien dengan dugaan infeksi HIV akut meliputi beberapa kondisi lain yang memiliki gejala serupa, seperti mononukleosis, toksoplasmosis, hepatitis virus, serta lupus eritematosus sistemik.[4]
Mononukleosis
Mononukleosis infeksiosa disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV). Mononukleosis secara klasik ditandai oleh demam, limfadenopati, dan faringitis tonsilar. Infeksi HIV primer dapat memberikan gambaran klinis yang berbeda, seperti adanya ulserasi mukokutan dan ruam kulit yang lebih sering ditemukan dibandingkan pada mononukleosis.[9]
Toksoplasmosis
Toksoplasmosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh parasit zoonotik Toxoplasma gondii. Meskipun tersebar luas di seluruh dunia, infeksi ini jarang menimbulkan gejala klinis bermakna pada individu imunokompeten, dan infeksi primer umumnya bersifat asimtomatik.
Namun, sebagian individu dapat mengalami fase akut dengan gejala sistemik yang tidak spesifik, keterlibatan sistem saraf pusat, atau manifestasi okular seperti uveitis posterior. Setelah infeksi awal, parasit dapat menetap dalam bentuk laten seumur hidup. Pada kondisi imunosupresi, termasuk pada pasien dengan infeksi HIV, kemoterapi, atau pasca transplantasi organ, infeksi laten ini dapat mengalami reaktivasi.[10]
Hepatitis Virus
Pada infeksi hepatitis virus akut maupun kronis aktif, pasien dapat mengalami malaise, kelelahan, demam ringan, penurunan nafsu makan, mual, muntah, serta penurunan berat badan. Pemeriksaan fisik bisa saja tidak menunjukkan kelainan, namun pada beberapa kasus dapat ditemukan nyeri tekan di kuadran kanan atas dengan hepatomegali, ruam urtikaria, serta tanda dehidrasi. Gambaran klinis yang tidak khas ini dapat menyerupai infeksi HIV, terutama pada fase awal.[11]
Lupus Eritematosus Sistemik (LES)
Lupus eritematosus sistemik (LES) merupakan penyakit autoimun sistemik yang melibatkan berbagai organ dan berhubungan dengan morbiditas serta mortalitas yang tinggi. Patogenesisnya dipengaruhi oleh faktor genetik, imunologis, endokrin, dan lingkungan yang menyebabkan hilangnya toleransi imun terhadap antigen diri, sehingga terbentuk autoantibodi patogen yang memicu kerusakan jaringan melalui berbagai mekanisme.
Beberapa infeksi virus dapat memberikan gambaran klinis yang menyerupai LES, sehingga menjadi diagnosis banding, termasuk pada pasien dengan dugaan HIV. Infeksi HIV dapat bermanifestasi dengan demam, kelelahan, ulkus oral, dan sitopenia. Namun, pada infeksi virus tersebut umumnya tidak ditemukan autoantibodi spesifik maupun manifestasi sistemik khas LES.[12]
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis infeksi HIV ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium, termasuk tes antibodi, antigen-antibodi, dan nucleic acid amplification test (NAAT). Pada fase awal infeksi terdapat periode eclipse (±10 hari) di mana virus belum terdeteksi, diikuti window period hingga 20–25 hari, saat deteksi masih terbatas. NAAT dapat mendeteksi RNA HIV paling dini (6–8 hari pasca infeksi), diikuti deteksi antigen p24 (13–20 hari), serta antibodi IgM dan IgG (sekitar 20–30 hari).
Dalam praktik klinis, tes kombinasi antigen-antibodi generasi keempat direkomendasikan sebagai skrining utama karena mampu mendeteksi HIV-1, HIV-2, serta antigen p24. Hasil positif harus dikonfirmasi dengan tes lanjutan, sedangkan hasil negatif pada kecurigaan infeksi dini perlu diikuti NAAT atau pengulangan pemeriksaan dalam 1–3 minggu.
Setelah diagnosis ditegakkan, evaluasi awal meliputi hitung CD4+, viral load HIV RNA, pemeriksaan darah lengkap, fungsi organ, serologi hepatitis, serta uji resistensi obat. Viral load merupakan indikator utama respons terapi antiretroviral (ART), sedangkan jumlah CD4+ mencerminkan fungsi imun dan menentukan kebutuhan profilaksis infeksi oportunistik.[4]
Secara umum, diagnosis HIV dapat ditegakkan melalui dua metode utama, yaitu pemeriksaan serologis dan virologis. Setelah seseorang dinyatakan HIV positif, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang tambahan untuk menilai ada tidaknya penyakit penyerta dan infeksi oportunistik.[2]
Pemeriksaan Serologis
Pemeriksaan serologis, seperti rapid test (RDT) dan enzyme immunoassay (EIA), digunakan untuk mendeteksi antibodi atau kombinasi antigen-antibodi. Alat diagnostik yang digunakan untuk pemeriksaan serologis harus mempunyai sensitivitas minimal 99% (untuk reagen ke-1), dan spesifisitas minimal 99% dengan kesalahan baca <5%.[3]
Pada anak usia di atas 18 bulan, remaja, dan dewasa, diagnosis dilakukan menggunakan tes serologis berjenjang, dengan hasil yang dapat berupa reaktif, non-reaktif, atau inkonklusif, dan memerlukan konfirmasi lanjutan bila hasil belum pasti.[2]
Pemeriksaan Virologis
Pemeriksaan virologis dilakukan dengan mendeteksi DNA atau RNA HIV, yang terutama digunakan pada kondisi tertentu seperti bayi dan anak <18 bulan, pasien kasus terminal dengan hasil pemeriksaan antibodi negatif namun klinis mendukung, dan hasil pemeriksaan yang inkonklusif.
Pada anak usia <18 bulan, diagnosis HIV tidak dapat menggunakan pemeriksaan serologis karena adanya antibodi maternal. Pemeriksaan ini direkomendasikan pertama kali pada usia 4–6 minggu, dengan sensitivitas yang meningkat seiring bertambahnya usia bayi.[2]
Pemeriksaan DNA HIV pada bayi yang mendapat ASI dapat dilakukan setelah ASI dihentikan minimal 6 minggu sebelum pemeriksaan. Pemeriksaan antibodi pada anak <18 bulan dapat dilakukan pada wilayah yang tidak memiliki akses pemeriksaan virologis.[2,3]
Pemeriksaan CD4
Pemeriksaan CD4 berfungsi untuk menilai derajat imunodefisiensi, menentukan stadium penyakit, dan menjadi dasar dalam pemberian profilaksis infeksi oportunistik. Selain itu, penentuan stadium klinis HIV dan klasifikasi derajat imunodefisiensi mengacu pada kriteria yang ditetapkan oleh WHO juga didasarkan pada hasil pemeriksaan CD4.[2]
Pemeriksaan Penunjang Tambahan
Pemeriksaan penunjang tambahan yang sangat direkomendasikan antara lain pemeriksaan jumlah CD4, skrining tuberkulosis, serta darah lengkap untuk mendeteksi anemia, leukopenia, atau trombositopenia.
Selain itu, pemeriksaan fungsi hati penting terutama jika akan menggunakan nevirapin. Skrining koinfeksi hepatitis B juga diperlukan karena memengaruhi pemilihan regimen berbasis tenofovir.
Pemeriksaan tambahan lainnya mencakup skrining penyakit tidak menular seperti gula darah puasa dan profil lipid, urinalisis untuk mendeteksi gangguan ginjal terutama pada pasien dengan komorbid, serta tes kehamilan pada wanita usia subur untuk pertimbangan terapi dan pencegahan transmisi ibu ke anak.[2]
Penegakan Diagnosis HIV
Diagnosis HIV dinyatakan positif apabila terdapat tiga hasil tes serologis reaktif dengan metode berbeda atau ditemukan virus melalui pemeriksaan virologis baik secara kuantitatif atau kualitatif. Secara keseluruhan, pedoman klinis Indonesia merekomendasikan penggunaan uji virologis pada anak <18 bulan dan uji serologis dengan strategi tiga tes sekuensial pada individu ≥18 bulan sebagai standar diagnosis HIV.[2,3]
Diagnosis Presumtif
Dalam kondisi terbatas, diagnosis presumtif dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil serologis, namun tetap harus dikonfirmasi dengan uji virologis. Diagnosis presumtif infeksi HIV pada bayi dan anak usia <18 bulan dapat ditegakkan apabila terdapat hasil serologi HIV reaktif disertai tanda klinis tertentu.
Kriteria klinis tersebut meliputi adanya gejala berat seperti oral thrush, pneumonia berat, atau sepsis berat, atau ditemukannya penyakit yang mengarah ke AIDS seperti pneumonia pneumocystis, meningitis kriptokokus, malnutrisi berat, kandidiasis esofageal, sarkoma Kaposi, maupun tuberkulosis ekstraparu.
Selain itu, diagnosis presumtif juga dapat diperkuat oleh faktor pendukung seperti riwayat kematian ibu terkait HIV, penyakit HIV pada ibu, atau kondisi imunosupresi pada anak (CD4 <20%). Meskipun demikian, diagnosis presumtif ini tetap memerlukan konfirmasi lebih lanjut dengan pemeriksaan virologis segera setelah anak berusia 18 bulan.[3]
Stadium HIV
WHO mengembangkan sistem penentuan stadium berdasarkan klinis pada tahun 2007 untuk mempermudah penentuan tahap infeksi HIV secara cepat, terutama sebagai alat surveilans pada daerah dengan keterbatasan fasilitas pemeriksaan HIV atau CD4.[13,14]
Stadium 1 umumnya asimtomatik atau hanya limfadenopati generalisata persisten. Stadium 2 ditandai gejala ringan seperti penurunan berat badan <10% dan infeksi berulang. Stadium 3 menunjukkan gejala lebih berat seperti penurunan berat badan >10%, diare kronis, demam persisten, dan infeksi oportunistik tertentu. Stadium 4 (AIDS) ditandai oleh infeksi oportunistik berat dan keganasan.
Selain stadium klinis, WHO juga mengembangkan klasifikasi imunologis untuk membagi kondisi imunodefisiensi pada kasus HIV terkonfirmasi.[4]
Tabel 1. Klasifikasi Imunologi WHO Untuk Infeksi HIV
| Klasifikasi Imunodefisiensi | Nilai CD4 berdasarkan usia | |||
| <11 bulan (%CD4+) | 12-35 bulan (%CD4+) | 36-59 bulan (%CD4+) | >5 tahun (angka absolut per mm3 atau %CD4+) | |
| Tidak ada atau tidak signifikan | >35 | >30 | >25 | >500 |
| Ringan | 30-35 | 25-30 | 20-25 | 350-499 |
| Lanjut | 25-29 | 20-24 | 15-19 | 200-349 |
| Berat | <25 | <20 | <15 | <200 atau <15% |
Sumber: dr. Siti Solichatul Makkiyyah, Alomedika, 2026.[13]
Namun, pada tahun 2014 hasil tinjauan sistematis menunjukkan bahwa dengan menggunakan ambang jumlah CD4<200 sel/mm3, kemampuan untuk mengidentifikasi penyakit AIDS stadium 3 atau 4 menurut WHO hanya mencapai sensitivitas 60%, dan spesifisitas 73%. Oleh sebab itu, pada tahun 2016, WHO mendefinisikan penyakit HIV lanjut sebagai kondisi HIV dengan jumlah CD4 ≤200 sel/mm3.
Pada rekomendasi terbaru pada tahun 2025, WHO menyatakan bahwa pemeriksaan CD4 menjadi metode rekomendasi untuk penentuan stadium penyakit HIV. Pada daerah yang tidak memiliki fasilitas pemeriksaan CD4, maka stadium klinis dapat digunakan untuk penentuan stadium penyakit HIV.[14]
Penulisan pertama oleh: dr. Abi Noya