Prognosis HIV
Prognosis infeksi HIV sangat bergantung pada terapi dan respons pasien terhadap pengobatan. Tanpa terapi, infeksi HIV hampir selalu berakhir fatal. Namun, penggunaan terapi antiretroviral (ART) yang efektif dengan supresi virologis yang berkelanjutan secara signifikan meningkatkan luaran klinis, menurunkan komplikasi seperti infeksi oportunistik, dan meningkatkan harapan hidup.[4]
Komplikasi
Komplikasi pada infeksi HIV dapat berasal dari penyakit itu sendiri maupun dari terapi antiretroviral (ART). Meskipun ART telah secara signifikan menurunkan kejadian infeksi oportunistik dan keganasan terkait HIV, progresi menjadi AIDS tetap merupakan komplikasi penting sehingga diperlukan skrining dan pemantauan terhadap penyakit penentu AIDS sesuai kondisi klinis pasien.[4]
Komplikasi Terkait HIV
Komplikasi terkait HIV meliputi gangguan neurokognitif dan psikiatri (terutama terkait penggunaan efavirenz), neuropati perifer distal simetris, lipodistrofi, toksisitas mitokondria akibat NRTI, serta kondisi keganasan dan inflamasi seperti sarkoma Kaposi, multicentric Castleman disease, dan berbagai limfoma hematologis (misalnya limfoma non-Hodgkin dan limfoma Burkitt).[4]
Psikiatri:
Gangguan jiwa dan infeksi HIV merupakan dua hal yang saling berkaitan. Penderita gangguan jiwa rentan terhadap perilaku berisiko, sementara orang dengan HIV rentan mengalami gangguan jiwa sebagai akibat stress psikososial pasca diagnosis HIV serta efek penggunaan obat.
Infeksi HIV pada susunan saraf pusat dan pengobatan ART dapat menyebabkan gangguan kognitif dan menimbulkan gangguan jiwa lain. ODHIV dengan masalah kesehatan jiwa memengaruhi kepatuhan terhadap pengobatan dan pencegahan perilaku berisiko.[3]
Neurologis:
Terdapat laporan mengenai tingginya prevalensi gangguan neurokognitif terkait HIV (HAND/HIV-associated neurocognitive disorders) dan demensia yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer pada pasien dengan HIV.[20]
Keganasan:
Infeksi HIV meningkatkan risiko kanker, terutama yang berkaitan dengan agen infeksi yang diklasifikasikan sebagai karsinogen oleh International Agency for Research on Cancer. Limfoma merupakan salah satu yang paling sering ditemukan pada individu dengan HIV. Diffuse large B-cell lymphoma masih menjadi jenis kanker yang paling dominan bahkan setelah era terapi antiretroviral kombinasi (cART).
Sementara itu, insiden limfoma lain seperti limfoma Burkitt, primary effusion lymphoma, dan plasmablastic lymphoma relatif stabil, namun terjadi peningkatan pada limfoma Hodgkin serta penyakit terkait Kaposi sarcoma-associated herpes virus seperti multicentric Castleman disease.[21]
Komplikasi Terkait Penggunaan ART
Penggunaan ART berkaitan dengan peningkatan risiko komorbiditas, terutama penyakit kardiovaskular. Pasien HIV memiliki prevalensi dislipidemia yang tinggi, serta dapat mengalami intoleransi glukosa atau diabetes, khususnya pada penggunaan obat ART generasi lama seperti protease inhibitor.
Selain itu, peningkatan berat badan sering terjadi pada pasien yang menjalani ART dan menjadi faktor penting dalam peningkatan risiko kardiovaskular, terutama pada regimen berbasis tenofovir alafenamide. Sehingga, tata laksana jangka panjang pasien HIV harus mencakup modifikasi gaya hidup serta skrining rutin terhadap risiko komplikasi.[4]
Sindrom Pulih Imun (SPI):
Sindrom pulih imun (SPI) atau Immune Reconstitution Inflammatory Syndrome (IRIS) adalah suatu perburukan kondisi klinis akibat proses inflamasi terhadap antigen baik hidup atau mati setelah pemberian obat ART dan pulihnya sistem imun. Faktor risiko timbulnya SPI adalah rendahnya nilai CD4, tingginya viremia, cepatnya penurunan jumlah virus dalam darah, dan adanya antigen pemicu.[3]
SPI terdiri dari dua jenis yaitu unmasking dan paradoxical. SPI unmasking terjadi jika sebelum pemberian ART, penyakit infeksi oportunistik tidak ditemukan atau tidak terdiagnosis serta tidak mendapatkan pengobatan yang tepat. Sementara SPI paradoxical terjadi jika ditemukan infeksi oportunistik dan telah mendapatkan pengobatan yang tepat.[2]
Manifestasi SPI tergantung antigen (infeksius atau non-infeksisus) yang menjadi pemicu. Pada saat penegakkan diagnosis SPI perlu dicantumkan antigen penyebab seperti IRIS tuberkulosis. Tata laksana SPI adalah melanjutkan pengobatan ART, dan menambahkan pengobatan infeksi oportunistik yang ada, dan jika perlu ditambah steroid jangka pendek, misalnya methylprednisolone 0,5-1 mg/kgBB/hari.[3]
Prognosis
Prognosis infeksi HIV sangat bergantung pada terapi dan respons pasien terhadap pengobatan. Tanpa terapi, infeksi HIV hampir selalu berakhir fatal. Namun, penggunaan terapi antiretroviral (ART) yang efektif dengan supresi virologis yang berkelanjutan secara signifikan meningkatkan luaran klinis dan harapan hidup.[4]
Faktor yang Meningkatkan Risiko Kematian
Data meta-analisis tahun 2017 menunjukkan bahwa harapan hidup meningkat seiring perbaikan terapi, dengan estimasi lebih tinggi pada pasien yang memulai ART lebih dini dibandingkan yang terlambat, baik di negara berpenghasilan tinggi maupun rendah-menengah.[4]
Selain itu, risiko kematian juga lebih tinggi pada pasien yang belum pernah mendapatkan terapi antiretroviral (ART-naïve) dibandingkan dengan yang sudah menjalani ART. Sebaliknya, peningkatan kadar hemoglobin dan lamanya penggunaan ART setiap tahun berhubungan dengan penurunan risiko kematian.[22,23]
Penelitian menunjukkan beberapa faktor peningkatan risiko kematian pada HIV, yaitu jumlah CD4 ≤350 sel/µL, peningkatan viral load, adanya demam baru-baru ini, indeks massa tubuh <18,5 kg/m², depresi klinis, serta status klinis WHO stadium III. Temuan ini menegaskan bahwa selain faktor imunologis dan virologis, kondisi klinis dan status gizi juga berperan penting dalam menentukan luaran pasien HIV.[23]
Peran Supresi Virus Terhadap Prognosis
Supresi viral menjadi faktor penentu utama prognosis. Pasien yang mencapai supresi virus tetapi tidak mengalami pemulihan imunologis (CD4+ <200 sel/mm³) memiliki risiko kematian sekitar 2,6 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang mencapai pemulihan imun (CD4+ >200 sel/mm³).[4]
Faktor Prognosis Lainnya
Faktor lain yang berhubungan dengan prognosis buruk meliputi usia lebih tua, nilai CD4+ nadir yang rendah, keterlambatan mencapai supresi viral, serta komorbid seperti hepatitis B, hepatitis C, dan penggunaan narkoba suntik, yang juga memerlukan dukungan sosial dan kepatuhan terapi untuk memperbaiki luaran.[4]
Penelitian lain menunjukkan hubungan keterlambatan diagnosis HIV terhadap kematian yang cukup besar, dengan population attributable risk proportion (PARP) sebesar 77,8% untuk semua kematian alami dan 87,8% untuk kematian terkait HIV/AIDS. Temuan ini menegaskan bahwa diagnosis HIV yang terlambat secara signifikan meningkatkan risiko kematian, terutama pada tahun pertama setelah diagnosis[24]
Selanjutnya, penelitian lain menunjukkan bahwa koinfeksi juga berkontribusi terhadap peningkatan risiko kematian pada HIV. Koinfeksi yang paling sering ditemukan adalah Mycobacterium tuberculosis (24,1%) dan Treponema pallidum (20,5%). Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pasien dengan diagnosis HIV sebelum masuk rumah sakit, pasien dengan koinfeksi M. tuberculosis, serta pasien yang mengalami sepsis memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.[25]
Penulisan pertama oleh: dr. Abi Noya