Epidemiologi HIV
Epidemiologi kasus HIV pada akhir tahun 2024 menurut World Health Organization (WHO) diperkirakan sekitar 40,8 juta (37,0–45,6 juta) orang hidup di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,4 juta adalah anak-anak berusia 0–14 tahun, sedangkan 39,4 juta merupakan orang dewasa berusia 15 tahun ke atas.[7]
Global
Secara global pada tahun 2024, sekitar 1,3 juta orang baru terinfeksi HIV. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 40% dibandingkan tahun 2010, ketika jumlah infeksi baru mencapai sekitar 2,2 juta kasus. Dari total infeksi baru tersebut, sekitar 120.000 kasus terjadi pada anak-anak, sementara 1,2 juta kasus terjadi pada orang dewasa.[7]
Indonesia
Berdasarkan data epidemiologi HIV di Indonesia tahun 2024, diperkirakan terdapat sekitar 570.000 orang hidup dengan HIV dengan rentang 520.000–620.000 kasus. Dari jumlah tersebut, sekitar 180.000 adalah perempuan berusia ≥15 tahun. Selain itu, diperkirakan terdapat sekitar 25.000 infeksi HIV baru setiap tahun, dengan rentang 23.000–28.000 kasus.
Data tahun 2024 menunjukkan bahwa epidemi HIV di Indonesia terutama terkonsentrasi pada populasi kunci. Prevalensi HIV tertinggi ditemukan pada pengguna narkoba suntik, yaitu sekitar 28%, diikuti oleh laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL/MSM) sebesar 21,9%, serta pekerja seks sebesar 8%. Data ini menunjukkan bahwa faktor perilaku berisiko, masih menjadi jalur utama penularan HIV di Indonesia.[8]
Mortalitas
Pada tahun 2024, data global menunjukkan sekitar 630.000 orang meninggal akibat penyebab terkait HIV, dengan rentang antara 490.000-820.000 kematian. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 54% sejak tahun 2010, ketika jumlah kematian akibat HIV mencapai sekitar 1,4 juta orang.
Jika dibandingkan dengan puncak epidemi pada tahun 2004, jumlah kematian pada tahun 2024 telah menurun sekitar 70%. Dari total kematian tersebut, sekitar 75.000 terjadi pada anak-anak, sedangkan 550.000 terjadi pada orang dewasa. Secara kumulatif, epidemi HIV telah menyebabkan sekitar 44,1 juta kematian di seluruh dunia hingga saat ini.[6]
Sementara di Indonesia, sekitar 24.000 kematian terkait HIV dengan rentang estimasi 21.000–27.000 kematian.[8]
Penyebab mortalitas pada pasien dengan HIV adalah infeksi oportunistik akibat imunosupresi berat, terutama ketika jumlah CD4 <200 sel/µL, meliputi tuberkulosis, pneumocystis pneumonia, dan cryptococcal meningitis. Selain itu, pada era terapi antiretroviral, mortalitas juga meningkat akibat penyakit non-infeksi seperti penyakit kardiovaskular dan keganasan terkait HIV.[7,8,23,25]
Penulisan pertama oleh: dr. Abi Noya