Edukasi dan Promosi Kesehatan Pneumonia Komunitas
Edukasi pneumonia komunitas atau community acquired pneumonia (CAP) perlu mencakup warning sign untuk pasien yang tidak dirawat inap, sehingga pasien mengetahui untuk kembali ke rumah sakit jika ada perburukan klinis. Selain itu, rencana terapi dan perjalanan penyakit juga perlu diinformasikan. Promosi kesehatan dilakukan dengan pola hidup sehat dan vaksinasi.[1,7,15]
Edukasi Pasien
Pasien perlu memahami bahwa antibiotik harus diminum sesuai dosis, jadwal, dan lama terapi yang telah ditentukan, meskipun gejala sudah membaik sebelum pengobatan selesai. Selain itu, pasien dianjurkan untuk beristirahat yang cukup, memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi, serta menghindari kebiasaan merokok dan paparan asap rokok karena dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan.
Pasien juga perlu mengetahui bahwa perbaikan gejala, seperti penurunan demam dan berkurangnya sesak napas atau batuk, umumnya terjadi secara bertahap dalam beberapa hari setelah terapi dimulai. Yakinkan pasien untuk mengikuti arahan petugas kesehatan dan tidak menghentikan terapi secara sepihak.
Selain itu, pasien dan keluarga juga diberikan informasi mengenai tanda bahaya yang memerlukan evaluasi medis segera, seperti sesak napas yang semakin berat, demam tinggi yang menetap, penurunan kesadaran, nyeri dada yang memburuk, bibir atau ujung jari membiru, serta ketidakmampuan makan dan minum dengan baik.
Sebagai upaya pencegahan kekambuhan, pasien dianjurkan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga kebersihan tangan, mendapatkan imunisasi yang direkomendasikan seperti vaksin influenza dan vaksin pneumokokus pada kelompok berisiko, serta mengendalikan penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko terjadinya pneumonia.[7,15,34]
Upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit pada CAP dilakukan untuk modifikasi beberapa faktor risiko yang dapat mengurangi risiko kejadian CAP dan CAP berat. Upaya yang dapat dilakukan antara lain adalah:
- Berhenti merokok
- Mengurangi konsumsi alkohol
- Memperbaiki status gizi melalui diet
- Memperhatikan kebersihan diri, termasuk tangan dan mulut
- Vaksinasi COVID-19, influenza, dan pneumokokus
Bila hendak melakukan perjalanan, sebaiknya menghindari menyentuh hewan atau burung, mengunjungi pasar basah, peternakan atau pasar hewan hidup serta menghindari kontak dekat dengan pasien yang memiliki gejala infeksi saluran napas.
Kebiasaan hidup sehat dilakukan dengan cara:
- Selalu cuci tangan, terutama sebelum memegang mulut, hidung dan mata; serta setelah memegang instalasi publik.
- Kebersihan tangan dapat dilakukan dengan mencuci tangan dengan air dan sabun cair atau dapat menggunakan alkohol 70–80% handrub.
- Menutup mulut dan hidung dengan tisu ketika bersin atau batuk.
- Ketika memiliki gejala saluran napas, gunakan masker dan berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan.[1]
Vaksinasi
Di Indonesia, saat ini vaksinasi pneumokokus (PCV) sudah masuk dalam program imunisasi pemerintah. Selain itu, vaksinasi influenza dan COVID-19 juga diindikasikan untuk mencegah terjadinya pneumonia berat akibat infeksi influenza dan SARS-CoV-2.[61]
Vaksinasi Pneumokokus (PCV):
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian vaksin pneumokokus (PCV) sebanyak 4 dosis, yakni pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan dosis keempat idealnya pada usia 12-15 bulan.[18]
Vaksinasi PCV juga dianjurkan pada orang dewasa, yakni usia 19-60 tahun.[62]
Vaksinasi Influenza:
Vaksinasi influenza bukan merupakan vaksinasi wajib, tetapi dapat diberikan pada bayi di atas 6 bulan dan orang dewasa dengan 1 dosis dan diulang setiap tahunnya. Pemberian vaksin influenza harus hati-hati pada pasien yang demam dan kontraindikasi pada pasien dengan riwayat alergi produk telur dan riwayat anafilaksis terhadap vaksin influenza.[18,62]
Vaksinasi COVID-19:
Vaksin COVID-19 adalah vaksin yang bermanfaat untuk mencegah infeksi berat oleh virus SARS-CoV-2. Vaksin COVID-19 adalah vaksin wajib yang penggunaannya dianjurkan oleh WHO dalam menghadapi pandemi, dengan target pencapaian minimal 70% populasi.[63,64]
Penulisan pertama oleh: dr. Gold SP Tampubolon
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha