Penatalaksanaan Pneumonia Komunitas
Penatalaksanaan pneumonia komunitas atau community-acquired pneumonia (CAP) dipertimbangkan dengan melakukan penilaian berdasarkan sistem skoring pneumonia severity index (PSI) maupun CURB-65. Berdasarkan penilaian tersebut, maka dapat diputuskan kemungkinan rawat jalan, rawat inap, atau perawatan intensif pada pasien dengan CAP.[3,7]
British Thoracic Society mengeluarkan skoring CURB-65 yang lebih sederhana dengan pemberian skor 1 poin pada setiap temuan aspek yang dinilai. Rawat jalan direkomendasikan pada skor 0-1, rawat jalan dengan supervisi atau rawat inap singkat pada skor 2, rawat inap pada skor 3 atau lebih, dan pertimbangkan rawat di ruang perawatan intensif (ICU) pada skor 4-5. Aspek yang dinilai adalah:
C : Confusion atau disorientasi
U : Urea >7 mmol/L atau setara blood urea nitrogen (BUN) >20 mg/dL
R : Respiratory rate (laju pernapasan) 30 x/menit atau lebih
B : Blood pressure (tekanan darah) sistolik <90 mmHg atau diastolik <60 mmHg
65 : usia 65 tahun ke atas.[3,7]
Indeks lainnya yang bermanfaat pada pasien pneumonia komunitas adalah indeks PSI. Indeks PSI merupakan model prognostik untuk mengidentifikasi pasien dengan risiko kematian yang rendah namun cukup rumit bila diaplikasikan di instalasi gawat darurat yang cukup sibuk.[3]
Berobat Jalan
Keputusan berobat jalan pada CAP dilakukan berdasarkan pemeriksaan risiko beratnya penyakit dengan metode skoring CURB-65. Apabila dari skoring didapatkan skor antara 0 hingga 1, maka pasien diperbolehkan untuk rawat jalan dengan disertai pemberian obat-obatan yang adekuat. Pasien perlu diberikan edukasi mengenai warning sign yang perlu diwaspadai pada pneumonia.[7,8,34]
Apabila terdapat warning sign, maka pasien harus segera kontrol kembali di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk menerima terapi lebih lanjut. Warning sign pada pneumonia komunitas antara lain adalah tidak adanya perbaikan gejala klinis 48 sampai 72 jam setelah menerima terapi adekuat serta perburukan gejala klinis, seperti adanya distress napas dan penurunan kesadaran.[34]
Kriteria Rawat Inap untuk Anak
Pada pasien anak, kriteria rawat inap antara lain apabila ditemukan kondisi hipoksemia atau saturasi oksigen <90% dengan room air, usia dibawah 6 bulan dengan gejala pneumonia, takipneu, distress napas, capillary refill time (CRT) >2 detik, dan penampakan toksik. Penampakan toksik adalah manifestasi klinis berupa kondisi letargi, tanda perfusi yang buruk, tampak hipo- atau hiperventilasi dan sianosis.[6,35]
Pasien dengan Penyakit Komorbid dan Komplikasi
Pasien dengan penyakit komorbid dianjurkan untuk tidak berobat jalan. Penyakit komorbid yang dimaksud antara lain seperti sindrom genetik seperti sindrom down, gangguan neuromuskular seperti distrofi muskular, dan penyakit kardiopulmoner seperti ventrikular septal defek (VSD). Pasien CAP dengan komplikasi seperti efusi pleura dan empiema, serta memiliki caregiver yang tidak cakap dalam merawat juga sebaiknya dirawat.[6]
Persiapan Rujukan
Persiapan rujukan dari fasilitas kesehatan primer ke tingkat yang lebih tinggi dipertimbangkan apabila pada penilaian skoring CURB-65 didapatkan hasil 4 atau lebih. Hal ini karena, pasien kemungkinan besar membutuhkan fasilitas ruang perawatan intensif.[2,3,5,7]
Tabel 1. Kriteria Perawatan Pada Unit Rawatan Intensif Atau ICU
| Kriteria Mayor | Kriteria Minor |
| Kebutuhan untuk ventilasi mekanik | Rasio PaO2/FiO2 <250 |
| Syok sepsis | Laju pernapasan >30 kali per menit |
| Konfusi | |
| Infiltrat multilobar | |
| Tekanan darah sistolik <90 mmHg walaupun telah dilakukan resusitasi cairan | |
Blood Urea Nitrogen (BUN) >20 mg/dl | |
| Leukopenia (<4000 sel/mm3) | |
| Trombositopenia (<100.000 per mm3) | |
| Hipotermia (<36oC) | |
| Hiponatremia (<130 mEq/L) | |
| Perawatan ICU diindikasikan apabila terdapat minimal satu kriteria mayor atau 3 kriteria minor. | |
Sumber: dr. Reren Ramanda, Alomedika, 2022.[2,3,5,7]
Medikamentosa
Tata laksana medikamentosa pada pneumonia komunitas dapat meliputi terapi simtomatik dan definitif sesuai etiologi. Terapi simptomatik seperti paracetamol untuk demam dapat diberikan berdasarkan pertimbangan klinis tertentu, dan tidak selalu harus diberikan bila pasien sudah mendapat terapi definitif yang sesuai.
Selain itu, penggunaan dexamethasone jangka pendek selama 5 hari juga dapat memberikan outcome yang lebih baik pada anak dengan CAP berat. Pada dewasa, pemberian kortikosteroid untuk CAP tidak direkomendasikan secara rutin.
Bila etiologi CAP adalah virus, maka tidak diperlukan antibiotik karena virus dianggap sebagai self-limited diseases. Akan tetapi, kebanyakan infeksi virus dapat tumpang tindih dengan infeksi bakteri, sehingga pemberian antibiotik dapat dipertimbangkan apabila pemeriksaan klinis menunjang keadaan ini.[3,5-7,15]
Selain untuk pneumonia yang diakibatkan oleh infeksi bakteri, pemberian antibiotik dapat dilakukan pada kasus pneumonia dengan komplikasi. Pada anak prasekolah, etiologi yang sering ditemukan adalah virus, sehingga pada populasi ini lebih jarang memerlukan terapi antibiotik.[3,5,6]
Antibiotik Empiris pada Pneumonia Bakterial Pasien Dewasa
Menurut pedoman klinis Kementerian Kesehatan di Indonesia, tujuan pemberian antibiotik empiris adalah memberikan cakupan terhadap patogen yang paling mungkin menjadi penyebab infeksi, sekaligus mempertimbangkan pola resistensi bakteri yang berlaku di wilayah setempat.
Sebelum menentukan pilihan antibiotik, dokter perlu menilai riwayat perawatan di rumah sakit dalam tiga bulan terakhir serta riwayat penggunaan antibiotik parenteral dalam tiga bulan terakhir karena kedua faktor tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik.[7]
Pertimbangan dalam Pemilihan Antibiotik Empiris
Pemilihan antibiotik empiris didasarkan pada beberapa pertimbangan utama. Pertama, jenis mikroorganisme yang paling mungkin menjadi penyebab pneumonia berdasarkan data epidemiologi lokal dan pola resistensi setempat. Di sebagian besar kasus CAP yang memerlukan perawatan, Streptococcus pneumoniae merupakan penyebab tersering sehingga antibiotik yang dipilih harus memiliki aktivitas yang baik terhadap bakteri tersebut.
Kedua, perlu dilakukan penilaian terhadap faktor risiko resistensi antibiotik yang dapat meningkatkan kemungkinan kegagalan terapi bila tidak dikenali sejak awal. Ketiga, adanya penyakit penyerta atau komorbid tertentu dapat memengaruhi spektrum kuman penyebab dan menentukan kebutuhan antibiotik yang lebih luas.
Risiko infeksi oleh Streptococcus pneumoniae yang resisten terhadap penisilin meningkat pada:
- Pasien berusia lebih dari 65 tahun
- Memiliki riwayat penggunaan antibiotik golongan β-laktam dalam 3 bulan terakhir
- Mengalami alcohol use disorder
- Memiliki gangguan sistem imun
- Mempunyai beberapa penyakit penyerta sekaligus.
Pada populasi pasien ini, pemilihan antibiotik perlu mempertimbangkan kemungkinan resistensi.
Kemungkinan infeksi oleh bakteri batang Gram-negatif juga perlu dipertimbangkan pada:
- Pasien yang pernah menjalani perawatan jangka panjang di fasilitas kesehatan, termasuk panti jompo atau layanan perawatan di rumah
- Memiliki penyakit jantung atau paru kronik
- Menderita berbagai penyakit komorbid
- Memiliki riwayat penggunaan antibiotik sebelumnya.
Pada beberapa pasien, terdapat risiko infeksi oleh Pseudomonas aeruginosa, yaitu bakteri yang dikenal memiliki resistensi intrinsik terhadap banyak antibiotik. Risiko ini meningkat pada:
- Penderita bronkiektasis
- Pengguna kortikosteroid jangka panjang
- Pasien yang mendapat antibiotik spektrum luas lebih dari tujuh hari dalam 90 hari terakhir
- Pasien dengan status gizi buruk.
Bila faktor-faktor tersebut ditemukan, antibiotik empiris harus mencakup aktivitas antipseudomonas untuk meningkatkan peluang keberhasilan terapi.
Selain itu, perlu dipertimbangkan kemungkinan infeksi oleh Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Risiko MRSA lebih tinggi pada:
- Pasien yang dirawat di rumah sakit dalam 3 bulan terakhir
- Pernah menerima antibiotik parenteral dalam 3 bulan terakhir pada daerah dengan prevalensi MRSA yang tinggi
- Memiliki riwayat isolat MRSA positif dari saluran pernapasan.
Pada kondisi ini, terapi empiris dapat memerlukan penambahan antibiotik yang aktif terhadap MRSA hingga hasil pemeriksaan mikrobiologi tersedia.[7]
Jenis Antibiotik Empiris
Pada pasien CAP yang dirawat jalan tanpa komorbiditas dan tanpa faktor risiko infeksi MRSA maupun Pseudomonas aeruginosa, terapi empiris dapat diberikan dalam bentuk monoterapi menggunakan amoxicillin, doxycycline, atau antibiotik golongan makrolida seperti azithromycin dan clarithromycin.
Pada pasien rawat jalan yang memiliki komorbiditas seperti penyakit jantung, paru, hati, atau ginjal kronik, diabetes melitus, konsumsi alkohol, keganasan, maupun asplenia, diperlukan cakupan antibiotik yang lebih luas. Terapi yang direkomendasikan berupa kombinasi β-laktam, seperti amoxicillin-klavulanat atau sefalosporin generasi kedua atau ketiga, dengan makrolid atau doxycycline.
Pada pasien yang memerlukan rawat inap dengan pneumonia derajat tidak berat, terapi antibiotik harus diberikan segera setelah diagnosis ditegakkan, idealnya dalam waktu 4–8 jam. Regimen yang direkomendasikan adalah kombinasi β-laktam dan makrolid atau monoterapi menggunakan fluorokuinolon respirasi. Pada kasus pneumonia berat yang disertai sepsis, pemberian antibiotik harus dilakukan lebih cepat, yaitu dalam 1 jam setelah diagnosis.[7]
Tabel 1. Panduan Pemilihan Antibiotik Empiris Pasien Dewasa Rawat Jalan
| Kondisi Klinis | Pilihan Antibiotik |
| Pasien tanpa komorbiditas maupun faktor risiko MRSA atau Pseudomonas aeruginosa | Amoxicillin, doxycycline, atau azithromycin |
| Pasien dengan komorbiditas | Kombinasi amoxicillin-klavulanat atau sefalosporin, dengan makrolid atau doxycycline |
| Alternatifnya adalah fluorokuinolon respirasi seperti levofloxacin dan moxifloxacin | |
| Keterangan: · Komorbiditas meliputi penyakit jantung, paru, hati, atau ginjal kronik, diabetes mellitus, konsumsi alkohol, keganasan, atau asplenia. | |
Sumber: dr. Bedry Qintha, Alomedika, 2026.[7]
Berikut ini merupakan dosis antibiotik yang bisa dipakai untuk pasien rawat jalan:
- Dosis amoxicillin-klavulanat 3x500/125 mg.
- Pilihan golongan sefalosporin: cefpodoxime 2x200 mg, cefuroxime 2x500 mg.
- Pilihan golongan makrolid: azithromycin 1x500 mg pada hari pertama, lalu hari selanjutnya 1x250 mg; atau clarithromycin 2x500 mg
- Dosis doxycycline 2x100 mg.
- Pilihan fluorokuinolon respirasi: levofloxacin 1x750 mg; atau moxifloxacin 1x400 mg.[7]
Tabel 2. Panduan Pemilihan Antibiotik Empiris Pasien Dewasa Rawat Inap
| Pasien pneumonia tidak berat rawat inap (Nonsevere inpatient pneumonia) | |
| Regimen standar | β-laktam ditambah makrolid, atau |
| Fluorokuinolon respirasi | |
| Riwayat isolasi MRSA pada sampel respirasi sebelumnya | Tambahkan antibiotik yang mencakup MRSA, dan |
| Dapatkan kultur atau PCR nasal untuk deeskalasi atau konfirmasi kebutuhan untuk melanjutkan terapi | |
| Riwayat isolasi Pseudomonas aeruginosa pada sampel respirasi sebelumnya | Tambahkan antibiotik yang mencakup P. aeruginosa, dan |
| Pemeriksaan biakan sputum atau bilasan bronkus atau PCR nasal untuk deeskalasi atau konfirmasi kebutuhan untuk melanjutkan terapi | |
| Riwayat perawatan di rumah sakit dan mendapatkan antibiotik parenteral (<90 hari terakhir) dan memiliki faktor risiko untuk MRSA yang tervalidasi secara lokal | Lakukan pemeriksaan, namun jangan menambahkan antibiotik yang mencakup MRSA kecuali hasil kultur terbukti positif MRSA |
| Jika rapid nasal PCR tersedia, jangan menambahkan antibiotik untuk MRSA jika hasil negatif. Jika hasilnya positif, tambahkan antibiotik untuk MRSA dan lakukan pemeriksaan kultur | |
| Riwayat perawatan di rumah sakit dan mendapatkan antibiotik parenteral (<90 hari terakhir) dan memiliki faktor risiko untuk P. aeruginosa yang tervalidasi secara lokal | Lakukan pemeriksaan kultur, namun hanya berikan antibiotik untuk P. Aeruginosa jika hasil kultur positif |
Sumber: dr. Bedry Qintha, Alomedika, 2026.[7]
Tabel 3. Panduan Pemilihan Antibiotik Empiris Pasien Dewasa dengan Pneumonia Berat
| Pasien pneumonia berat rawat inap (Severe inpatient pneumonia) | |
| Regimen standar | β-laktam ditambah makrolid, atau |
| β-laktam ditambah fluorokuinolon respirasi | |
| Riwayat isolasi MRSA pada sampel respirasi sebelumnya | Tambahkan antibiotik yang mencakup MRSA, dan |
| Dapatkan kultur atau PCR nasal untuk deeskalasi atau konfirmasi kebutuhan untuk melanjutkan terapi | |
| Riwayat isolasi Pseudomonas aeruginosa pada sampel respirasi sebelumnya | Tambahkan antibiotik yang mencakup P. aeruginosa, dan |
| Dapatkan kultur atau PCR nasal untuk deeskalasi atau konfirmasi kebutuhan untuk melanjutkan terapi | |
| Riwayat perawatan di rumah sakit dan mendapatkan antibiotik parenteral (<90 hari terakhir) dan memiliki faktor risiko untuk MRSA yang tervalidasi secara lokal | Tambahkan antibiotik yang mencakup MRSA, dan |
| Dapatkan kultur atau PCR nasal untuk deeskalasi atau konfirmasi kebutuhan untuk melanjutkan terapi | |
| Riwayat perawatan di rumah sakit dan mendapatkan antibiotik parenteral (<90 hari terakhir) dan memiliki faktor risiko untuk P. aeruginosa yang tervalidasi secara lokal | Tambahkan antibiotik yang mencakup P. aeruginosa, dan |
| Dapatkan kultur atau PCR nasal untuk deeskalasi atau konfirmasi kebutuhan untuk melanjutkan terapi | |
Sumber: dr. Bedry Qintha, Alomedika, 2026.[7]
Berikut ini merupakan dosis antibiotik yang bisa dipakai untuk pasien rawat inap, yang mana pemilihan jenis antibiotik dilakukan sesuai tabel yang tertera di atas:
- β-laktam: ampicillin + sulbaktam 4x1,5-3 gram; cefotaxime 3x1-2 gram; ceftriaxone 1x1-2 gram; atau ceftaroline 2x600 mg.
- Makrolid: azithromycin 1x500 mg; atau clarithromycin 2x500 mg.
- Fluorokuinolon respirasi: levofloxacin 1x750 mg; atau moxifloxacin 1x400 mg.
- Antibiotik yang mencakup MRSA: vancomycin 2x15 mg/kg; atau linezolid 2x600 mg.
- Antibiotik yang mencakup Aeruginosa: piperacillin-tazobactam 4x4,5 gram; ceftazidime 3x2 gram; imipenem 4x500 mg; atau meropenem 3x1 gram.[7]
Durasi Terapi Antibiotik
Pedoman klinis dari American Thoracic Society menganjurkan agar durasi terapi antibiotik pada pasien pneumonia komunitas yang tidak berat (nonsevere), adalah antara 3-5 hari. Pada kasus berat, antibiotik dianjurkan untuk digunakan selama 5 hari atau lebih.[15]
Pedoman tersebut memiliki kemiripan dengan pedoman dari Kementerian Kesehatan, yang mana dianjurkan agar pemberian antibiotik dievaluasi dalam 48-72 jam pertama:
- Jika didapatkan perbaikan klinis, terapi dapat dilanjutkan
- Jika perburukan maka antibiotik harus diganti sesuai hasil biakan atau pedoman empiris.
- Jika bakteri penyebab telah ditemukan dari pemeriksaan kultur dan tidak ditemukan adanya bukti koinfeksi dengan patogen lain, dipertimbangkan untuk melakukan deeskalasi.
Lebih lanjut, menurut pedoman Kementerian Kesehatan, masa perawatan di rumah sakit sebaiknya dipersingkat dengan mengganti antibiotik injeksi ke antibiotik oral dan perawatan dilanjutkan dengan berobat jalan. Dalam melakukan penggantian, harus memperhatikan ketersediaan obat yang efikasinya setara dengan antibiotik IV yang telah digunakan.
Perubahan ini dapat diberikan secara:
- Sekuensial, yaitu obat sama, potensi sama: misalnya penggantian levofloxacin IV ke sediaan oral, atau moxifloxacin IV ke sediaan oral.
Switch over, yaitu obat berbeda tetapi potensi sama: misalnya penggantian ceftazidime IV ke ciprofloxacin oral
Step down, yaitu obat sama atau berbeda, potensi lebih rendah: misalnya cefotaxime IV ke amoxicillin oral, atau cefuroxime oral, atau cefixime oral.
Menurut pedoman Kementerian Kesehatan, obat injeksi dapat diberikan 3 hari, kemudian pada hari ke-4 diganti obat oral dan pasien dapat berobat jalan. Penggantian bisa dilakukan jika klinis pasien stabil, gejala klinis membaik, dan pasien dapat minum obat oral.[7]
Antibiotik Empiris pada Pneumonia Bakterial Pasien Anak
Pada pasien anak dengan CAP yang diputuskan untuk rawat jalan, pilihan utama antibiotik empiris berdasarkan bakteri patogen lokal dan pola resistensi antibiotik adalah:
- Amoxicillin dengan dosis 90 mg/kgBB/hari terbagi menjadi 3 kali sehari dengan durasi 3-5 hari, atau
- Makrolida, seperti clarithromycin dengan dosis 15 mg/kg/hari dalam 2 dosis selama 7-14 hari, atau
- Azithromycin dosis tunggal 10 mg/kgBB pada hari pertama dilanjutkan 5 mg/kgBB pada hari ke 2-5.
Pada pasien anak yang dirawat inap, direkomendasikan penggunaan:
- Ampicillin intravena 200 mg/kg/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam, atau
- Azithromycin IV atau per oral diberikan sebagai dosis tunggal 10 mg/kg pada hari pertama dilanjutkan dengan 5 mg/kg pada hari ke 2–5, atau
Penicillin Gintravena 250,000-400,000 U/kgBB/hari terbagi tiap 4–6 jam.
Pada pasien anak yang dirawat di ruang rawat intensif, lini pertama antibiotik yang diberikan adalah golongan beta-laktam, contohnya ceftriaxone yang diberikan dengan dosis 75 mg/kgBB/hari tiap 24 jam. Alternatif lain untuk pasien anak adalah clindamycin dengan dosis 40 mg/kgBB/hari terbagi tiap 8 jam atau vancomycin intravena 60 mg/kgBB/hari terbagi tiap 8 jam.[6]
Pembedahan
Pembedahan dapat dilakukan sebagai tata laksana pada kasus pneumonia komunitas dengan komplikasi. Pembedahan yang dapat dilakukan antara lain dengan metode sederhana seperti pemasangan chest tube hingga yang lebih invasif seperti torakotomi dan lobektomi.
Chest Tube
Chest tube adalah prosedur pemasangan selang drainase lewat celah interkostal dengan tujuan mengalirkan cairan maupun udara pada rongga pleura keluar. Pada pneumonia, pemasangan chest tube diindikasikan pada pneumonia yang disertai empiema dan efusi pleura, maupun dengan komplikasi pneumothorax.[36]
Torakotomi
Torakotomi adalah prosedur pembedahan dengan melakukan insisi pada dinding dada agar dapat mengakses kavum toraks. Prosedur torakotomi diindikasikan pada pneumonia yang disertai dengan empiema kronik.[37]
Lobektomi
Lobektomi adalah prosedur bedah untuk mengeluarkan lobus paru yang rusak. Biasanya lobektomi diindikasikan pada infeksi paru kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi yang sudah diberikan. Contohnya pada kondisi lobus paru dengan kavitas yang besar atau terdapat bronkiektasis lokal yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik.[38]
Terapi Suportif
Selain tata laksana pasien CAP dengan antibiotik, terapi suportif seperti istirahat dan pemberian cairan berdasarkan stratifikasi risiko CURB-65 untuk rawat inap/ICU dan rawat jalan. Paracetamol sebagai penurun panas tidak selalu diperlukan dan pemberian antitusif tidak direkomendasikan pada keadaan ini.
Terapi Suportif untuk Rawat Jalan
Terapi suportif untuk rawat jalan adalah memastikan pasien dapat mendapatkan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat serta istirahat, karena pemberian antibiotik yang adekuat dapat berperan memberikan outcome yang baik tapi tidak selalu sufisien untuk semua kasus. Pemberian nutrisi yang disarankan untuk rawat jalan adalah toleransi dan berat badan.[5-8]
Terapi Suportif untuk Rawat Inap/ICU
Terapi suportif pada pasien dengan CAP yang penting diberikan adalah pemberian terapi oksigen sesuai indikasi dengan atau tanpa ventilasi mekanik, terapi cairan, serta nutrisi sesuai kebutuhan.[3,5,6]
Terapi Oksigen:
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Zhang et al, terapi oksigen pada pasien pneumonia yang dirawat di ruang perawatan intensif dapat menurunkan angka kematian serta menurunkan lamanya waktu perawatan di ruang rawat intensif.[39]
Target saturasi oksigen adalah 92 sampai 98% pada orang normal. Akan tetapi, pada pasien dengan penyulit lain, misalnya penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), target saturasi oksigen dapat diturunkan menjadi 88 sampai 92% karena kondisi hiperkapnia kronis yang sudah ada sebelumnya.
Terapi oksigen dapat diberikan tanpa ventilasi mekanik, seperti nasal kanul dan non-rebreathing mask (NRM). Akan tetapi, bila target oksigenasi masih tidak tercapai, dapat dipertimbangkan pemberian high flow nasal cannula (HFNC), non-invasive ventilation (NIV), maupun intubasi.
Intubasi dapat dipertimbangkan dengan menghitung rasio PaO2/FiO2, indeks rasio SpO2/FIO2 dengan respiratory rate (ROX) pada mereka yang mendapat HFNC maupun skoring HACOR (Heart rate, Acidosis, Consciousness level, Oxygenation dan Respiratory rate) pada mereka yang mendapat NIV. Penurunan kesadaran tidak selalu menjadi indikasi dilakukannya intubasi.[40]
Terapi Cairan:
Terapi cairan diberikan pada pasien pneumonia komunitas untuk memenuhi kebutuhan cairan atau nutrisi parenteral tambahan, dehidrasi, serta ketidakseimbangan elektrolit. Pada terapi cairan, perhitungan balance cairan dari input dan output sangat diperlukan untuk mencegah kelebihan ataupun kekurangan pemberian cairan. Pada kondisi gangguan elektrolit, pemberian tambahan cairan elektrolit diberikan hingga mencapai target yang diinginkan sesuai perhitungan.[41]
Nutrisi:
Terapi nutrisi diperlukan pada pasien pneumonia komunitas yang mengalami malnutrisi. Kondisi malnutrisi akan menyebabkan respons pertahanan tubuh menjadi terganggu, sehingga kemampuan tubuh untuk melawan patogen berkurang.
Terapi nutrisi lebih disarankan melalui rute per oral maupun enteral lewat nasogastric tube (NGT). Akan tetapi, apabila tidak memungkinkan dengan jalur tersebut, pemberian nutrisi melalui jalur intravena (nutrisi parenteral) dapat dipertimbangkan.[41]
Simtomatik
Tata laksana utama pada CAP adalah mengobati etiologi, misalnya dengan antibiotik sesuai rekomendasi pada CAP yang disebabkan oleh infeksi bakterial.
Pemberian paracetamol sebagai penurun demam tidak selalu diperlukan pada keadaan di mana terapi definitif sudah diberikan dan klinis toxic appearance tidak didapatkan. Demam merupakan respon pertahanan imun tubuh terhadap infeksi dan bersifat menguntungkan pada suhu <40°C. Umumnya di atas suhu ini pasien memiliki toxic appearance.[42]
Antitusif, seperti codeine dan dextromethorphan, tidak direkomendasikan pada pneumonia. Hal ini karena berdasarkan studi yang ada, pemberian antitusif tidak membawa keuntungan tambahan.
Selain itu, batuk pada keadaan infeksi sebenarnya bermanfaat untuk membersihkan saluran napas dari sekresi yang berlebihan akibat infeksi. Lebih lanjut, obat ini bekerja menekan batuk secara sentral, sehingga benefit dan harm dari penggunaan obat tidak seimbang.[43]
Berhenti Merokok
Berhenti merokok dapat secara signifikan menurunkan mortalitas pneumonia. Bahkan angka mortalitas pasien yang telah berhenti merokok selama minimal 10 tahun dapat menurun hingga menyamai mortalitas pasien yang tidak pernah merokok.[44]
Penulisan pertama oleh: dr. Gold SP Tampubolon
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha